Tautan-tautan Akses

PDIP Serahkan Kasus Pemukulan Kadernya ke TNI dan Polisi


Kader PDIP Indra Wijaya memberi keterangan di Posko PDIP Jl.Diponegoro Jakarta seusai "Aksi tolak arogansi TNI" di Jakarta (VOA/Andylala).

Kader PDIP Indra Wijaya memberi keterangan di Posko PDIP Jl.Diponegoro Jakarta seusai "Aksi tolak arogansi TNI" di Jakarta (VOA/Andylala).

DPP PDIP menyerahkan sepenuhnya kasus pemukulan kader PDIP oleh oknum TNI Angkatan Darat ke Detasemen Polisi Militer (Denpuspom) TNI dan kepolisian.

Juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) Giyanto kepada VOA menjelaskan sekelompok anggota TNI Angkatan Darat dari Batalyon Zeni Konstruksi (Yon Zikon) 13 Jagakarsa, mendatangi kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Lenteng Agung, Jakarta Sabtu (20/4) dan melakukan kekerasan terhadap beberapa kader PDIP.

Kedatangan para anggota TNI itu menurut Giyanto, berawal dari kecelakaan yang dialami seorang anggota TNI dengan menggunakan sepeda motor, oleh sepeda motor lain yang dikemudikan seorang pelajar SMA. Pelajar itu menurut Giyanto, dipukuli oleh orang yang diduga anggota TNI, kemudian dipisahkan oleh petugas keamanan kantor DPP PDIP. Namun sekitar 30 menit kemudian, datang sekitar 12 anggota TNI AD ke Kantor DPP dan memukuli beberapa orang anggota satgas DPP PDIP.

"Ada tabrakan depan kantor, kita tolongin. Habis itu. Kebetulan yang tabrakan itu salah satu anggota TNI ya. Pasca kita lerai, 30 menit kemudian ada datang temen-temennya (anggota TNI). Yang menjaga korban yang dipukuli orang TNI itu, sempat dipukul oleh mereka," jelas Giyanto.

Menurut keterangan Giyanto, ada empat pegawai kantor DPP yang menjadi korban kekerasan oknum TNI Angkatan Darat itu. Satu diantaranya menderita cidera cukup serius, hingga perlu dijahit kepalanya. Sementara tiga lainya memar akibat pukulan.

DPP PDIP telah melaporkan insiden ini ke Detasemen Polisi Militer (Denpuspom) TNI dan kepolisian.

TNI Angkatan Darat membantah peristiwa itu sebagai insiden penyerangan, namun lebih karena adanya kesalah pahaman. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen Rukman Ahmad mengatakan setiap prajurit yang terkait peristiwa itu, wajib menghubungi atasannya jika tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Yang kita sayangkan adalah penyelesaiannya yang tidak bagus, salahlah. Jadi, seharusnya prajurit itu telpon komandannya. Prosedur yang kita ajarkan, jika ada sesuatu hal maka prosedurnya adalah menghubungi komandannya. Karena kalau komandannya yang menyelesaikan pasti akan lebih bagus dan tidak seperti ini," jelas Brigjen Rukman Ahmad.

Rukman Ahmad menambahkan, ada 10 anggota Yon Zikon 13 Jagakarsa yang saat ini tengah diperiksa denpuspom untuk kemudian nantinya akan di proses di pengadilan militer.

Sementara itu, sekelompok kader PDIP melakukan aksi bakar ban di depan bekas kantor PDI jalan Diponegoro Jakarta. Indra Wijaya salah seorang kader PDIP menjelaskan aksi itu sebagai wujud protes keras terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi di kantor DPP PDIP oleh prajurit TNI Angkatan Darat.

Indra menegaskan seluruh kader PDIP siap melakukan apapun untuk melindungi Ketua Umum PDIP termasuk menjaga atribut dan lambang partai."Banteng yang lagi diam lagi tidur, itu dibangunkan secara paksa. Kalo cara TNI angkatan darat seperti ini, dia akan rusak sendiri pada akhirnya. Sikap kami atas kekerasan yang terjadi, sebagai kader PDIP kami siap melakukan apapun," ungkapnya.

Terkait beberapa tindak kekerasan yang belakangan dilakukan oleh oknum prajurit TNI, pengamat militer Wawan Purwanto mengatakan pimpinan TNI harus kembali melakukan pembinaan mental terhadap para prajuritnya, selain penerapan sanksi hukuman yang dapat menimbulkan efek jera.

"Ya tetap harus ada ankum ya, atasan yang berwenang untuk menghukum. Nah polanya adalah banyak memberikan terapi. Karena kebanyakan mereka menyesal setelah dihukum. Sanksi bisa berupa penundaan kenaikan pangkat, penundaan kenaikan gaji, ataupun juga penundaan kesempatan pendidikan. Atau kalau perlu di sel (ditahan)," kata Wawan Purwanto. "Disamping itu, pihak bintal (pembinaan mental) TNI perlu menggenjot, karena ini 'kan anak-anak muda, agar bisa mengendalikan emosi dan mengendalikan diri," lanjutnya.
XS
SM
MD
LG