Tautan-tautan Akses

AS

Dolar Naik, Lalu Turun; Harga Minyak Tergelincir


Lembaran $1

Lembaran $1

Pasaran tenaga kerja yang membaik dan antisipasi terhadap peningkatan suku bunga telah mendorong nilai dolar AS, sementara kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi China dan meningkatnya persediaan minyak dunia mengakibatkan penurunan harga minyak mentah.

Dolar hampir mencapai tingkat tertinggi sejak empat bulan terakhir tapi kemudian sedikit menurun pada perdagangan Senin akibat ketidakpastian mengenai kapan kenaikan suku bunga akan terjadi.

Dolar naik dengan tingkat pengangguran di Amerika tetap stabil di tingkat terendahnya dalam tujuh tahun, dan perekonomian mencatat penciptaan 215.000 lapangan kerja. Dengan pasaran tenaga kerja yang membaik ini, bank sentral AS dapat menaikkan tingkat suku bunga bulan depan.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadikan investasi di AS lebih menguntungkan, sehingga para investor memborong dolar AS dan ekuitas. Permintaan bagi dolar dan saham-saham yang meningkat mendorong harga keduanya.

Laporan-laporan lain menunjukkan jumlah lokasi pengeboran minyak di AS sedikit bertambah, pada saat yang sama banyak investor berharap Iran akan meningkatkan ekspor minyaknya.

Laporan mengatakan China, salah satu konsumen minyak terbesar, mengalami penurunan ekspor, yang diartikan oleh investor sebagai tanda melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dan permintaan akan bahan bakar yang menurun.

Harga minyak jatuh, menjadi $49 (Rp. 661.500) per barel dengan persediaan minyak dunia melebihi permintaan.

Laporan-laporan di media keuangan menyebut indeks-indeks saham China naik Senin, kemungkinan disebabkan investor memperkirakan data ekonomi yang mengecewakan akan mendorong pemerintah untuk turun tangan di pasar untuk mendorong harga saham-saham.

XS
SM
MD
LG