Tautan-tautan Akses

AS

Dokumen Panama Picu Gerakan Pengetatan Peraturan

  • Jim Randle

Anggota Komisi Perbankan Senat AS, Elizabeth Warren (kanan) mendesak Depkeu menyelidiki sumber-sumber keuangan teroris pasca bocornya dokumen Panama (foto: dok).

Anggota Komisi Perbankan Senat AS, Elizabeth Warren (kanan) mendesak Depkeu menyelidiki sumber-sumber keuangan teroris pasca bocornya dokumen Panama (foto: dok).

Dokumen Panama memicu tuntutan baru terhadap orang-orang yang dituduh mendanai kelompok teroris, dan meningkatkan tekanan politik untuk memperketat peraturan keuangan di Amerika.

Serangan teror membutuhkan uang untuk bahan peledak, perjalanandan senjata. Memblokir dana untuk kelompok-kelompok ekstremis adalah kunci mengurangi ancaman mereka.

Teroris menggunakan sejumlah perusahaan yang ada di Panama untuk secara diam-diam memindahkan uang melalui perusahaan yang pemiliknya dirahasiakan, dan para pakar mengatakan pengungkapan itu mungkin menuai upaya tuntutan baru.

Eric Lorber pada Financial Integrity Network mengatakan, "Kita tahu dari Dokumen Panama bahwa ada organisasi teroris yang mendirikan perusahaan seperti ini – misalnya, Hizbullah."

Satu komite Dewan Perwakilan Amerika sudah mengadakan rapat dengar pendapat tentang keuangan teroris. Pejabat Departemen Kehakiman mengetahui laporan terbaru itu dan sedang mengkaji informasi.

Menurut mantan Senator Amerika Carl Levin, peraturan tegas yang mengharuskan diungkapnya pemilik perusahaan akan membantu menghentikan keuangan teroris.

Dalam artikel di surat kabar, ia meminta kepada para pejabat agar tidak menyia-nyiakan kesempatan politik ini yang didorong oleh kemarahan publik atas skandal tersebut.

Anggota Komisi Perbankan Senat AS, Elizabeth Warren mendesak Departemen Keuangan untuk juga menyelidiki.

Para pakar berpendapat peraturan yang lebih ketat akan lebih mempersulit pemindahan uang untuk operasi teroris, sehingga teroris beralih ke metode yang lebih lama, tetapi lebih sulit dilacak.

Tetapi, badan-badan amal yang secara sah menggalang dana bagi orang-orang di tempat-tempat yang dilanda perang mendapati bank tiba-tiba menutup rekening mereka, sehingga menyulitkan mereka membayar staf dan memenuhi biaya lain.

Sam Worthington, ketua LSM Interaction, mengatakan, "Sekarang banyak badan amal yang utamanya berbasis Muslim di Amerika, yang bekerja secara internasional, tidak lama lagi akan bangkrut."

Tingginya risiko dan rendahnya penghargaan membuat bank enggan terkait organisasi yang bekerja di daerah konflik seperti Somalia.

Bank mendapat sedikit uang dari rekening badan amal yang relatif kecil, tetapi dalam beberapa kasus membayar denda besar karena melanggar sanksi.

Itu semua adalah bagian dari risiko tinggi medan perang keuangan yang cepat berkembang. [ka/al]

XS
SM
MD
LG