Tautan-tautan Akses

DK PBB Serukan Diakhirinya Pertempuran di Sudan Selatan


Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir (tengah), dan mantan pemimpin pemberontak Riek Machar (kiri) menyerukan ketenangan dalam konferensi pers di Juba, Jumat (8/7).

Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir (tengah), dan mantan pemimpin pemberontak Riek Machar (kiri) menyerukan ketenangan dalam konferensi pers di Juba, Jumat (8/7).

Dewan Keamanan PBB Minggu sore (10/7) menyerukan kepada para pemimpin di negara yang sedang dikoyak konflik di Sudan Selatan untuk mengendalikan pasukan bersenjata yang saling bertempur.

Dewan Keamanan PBB juga mengingatkan bahwa serangan terus menerus terhadap warga sipil dan fasilitas-fasilitas PBB bisa dianggap sebagai kejahatan perang.

Duta Besar Jepang Untuk PBB yang sekaligus Presiden Dewan Keamanan Koro Bessho menyampaikan hal tersebut setelah melakukan konsultasi darurat selama lebih dari tiga jam tentang krisis di ibukota Juba itu.

Bessho yang memimpin badan yang beranggotakan 15 negara itu menyebut kondisi di lapangan sebagai “situasi genting” dan mengatakan sedikitnya satu anggota pasukan perdamaian China telah tewas terbunuh, sementara sejumlah anggota pasukan penjaga perdamaian Rwanda luka-luka.

Hingga Minggu malam belum ada perkiraan resmi tentang jumlah korban tewas dan luka-luka, dan masih belum jelas apakah pasukan yang setia kepada Presiden Salva Kiir atau pasukan yang mendukung Wakil Presiden Riek Machar akan memenuhi seruan PBB. Radio lokal di ibukota itu sebelumnya melaporkan sedikitnya 276 orang tewas, sementara juru bicara Machar mengatakan sedikitnya 150 tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.

Duta Besar Bessho juga mendesak Kiir dan Machar untuk “menunjukkan tekad masing-masing secara tulus untuk menerapkan perjanjian perdamaian penuh dan segera” guna mengakhiri perang saudara selama dua tahun yang sudah memporak-porandakan negara miskin itu.

Kedua pemimpin hari Sabtu (9/7) mengeluarkan pernyataan bersama menyerukan ketenangan di ibukota Juba, tetapi hal ini belum terwujud.

Beberapa saksi mata mengatakan pertempuran hari Minggu untuk kedua kalinya terjadi di kamp pengungsi. Pertempuran itu juga menarget pangkalan pemberontak di ibukota. Sementara secara terpisah juru bicara Machar mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kediaman wakil presiden telah diserang oleh mereka yang setia kepada Kiir. Belum ada yang bisa mengukuhkan laporan tersebut.

Persaingan Kiir yang berasal dari etnis Dinka dan Machar yang berasal dari etnis Nuer telah memicu perang saudara selama dua tahun, yang pecah setelah Presiden Kiir memecat Wakil Presiden Machar tahun 2013. Sebagai bagian dari perjanjian perdamaian yang dicapai akhir tahun lalu, Machar telah diangkat kembali menjadi wakil presiden, yang sekaligus mendorong pembentukan pemerintah transisi bersatu.

Namun kedua pemimpin masih belum menunjukkan rencana yang mungkin dilakukan untuk menyatukan pasukan mereka. [em]

XS
SM
MD
LG