Tautan-tautan Akses

Disiden Korea Utara: Kim Jong Un Terlalu Hijau


Foto Kim Jong Un dalam demonstrasi anti Korea Utara di Seoul, Korea Selatan (10/4). (Reuters/Lee Jae-won)

Foto Kim Jong Un dalam demonstrasi anti Korea Utara di Seoul, Korea Selatan (10/4). (Reuters/Lee Jae-won)

Mantan mata-mata yang sekarang tinggal di Korea Selatan memberikan pandangan mengenai cara kerja di negara tertutup itu dan pemimpinnya yang hijau.

Seiring meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea dengan peringatan dari pemerintah Pyongyang supaya orang asing pergi dan penutupan kompleks industri di perbatasan dengan Korea Selatan, banyak orang di seluruh dunia yang bertanya-tanya apa yang mendorong negara komunis itu untuk memprovokasi para tetangganya dan negara-negara lain.

Para analis menawarkan beragam pandangan mengenai mengapa pemimpin muda Korea Utara, Kim Jong Un, fokus pada penguatan militer daripada mencoba meningkatkan kesejahteraan rakyatnya yang miskin.

Seorang mantan mata-mata Korea Utara yang sekarang tinggal di Korea Selatan memberikan pandangan mengenai cara kerja di negara yang sangat tertutup dan pemimpinnya yang masih muda.

"Kim Jong Un terlalu hijau dan terlalu tidak berpengalaman. Ia kesulitan mendapatkan kontrol penuh atas militer dan memenangkan loyalitas mereka," ujar Kim Hyun Hee saat berbicara di televisi ABC Australia di sebuah lokasi yang tidak diketahui.

Ia membantu menanamkan sebuah bom di sebuah pesawat Korea Selatan pada 1987 yang menewaskan 115 orang dalam pesawat. Pihak berwenang Korea Selatan menangkapnya dan memberinya hukuman mati. Namun ia kemudian diampuni setelah diputuskan bahwa ia telah dicuci otaknya oleh Korea Utara.

Kim mengatakan ada alasan-alasan di balik ancaman-ancaman Kim Jong Un.

"Korea Utara menggunakan program nuklirnya untuk menundukkan warga dan mendorong Korea Selatan dan Amerika Serikat untuk konsesi-konsesi," ujarnya.

Sepakat dengan Kim Hyu Hee, ahli dari Asia Society, Suzanne DiMaggio mengatakan rezim ini semata-mata mencari cara untuk mempertahankan kekuasaan.

"Situasi ekonomi di Korea Utara sendiri sangat mengkhawatirkan. Jadi kemungkinan besar rezim ini menggunakan 15 April, hari pendiri negara, dan gertakan-gertakan militernya, untuk menggerakkan masyarakat dan menggugah nasionalisme dalam negara untuk mendukung pemimpin baru ini," ujar DiMaggio.

Para analis militer mengatakan meski ada ancaman-ancaman, militer Korea Utara yang beranggotakan 1,2 juta orang tidak menunjukkan tanda-tanda bersiap perang. Namun mereka mengatakan bahwa pemerintah Pyongyang sepertinya akan melakukan aksi-aksi provokasi, seperti menembakkan misil atau uji coba senjata nuklir, untuk memperingati ulang tahun pendiri Korea Utara dan kakek pemimpin saat ini, Kim Il Sung.
XS
SM
MD
LG