Tautan-tautan Akses

Dirjen UNESCO Tandai Rampungnya Pembersihan Borobudur dari Debu Vulkanik

  • Munarsih Sahana

Dirjen UNESCO, Irina Bokova berfoto bersama para volunteer pembersihan Candi Borobudur (19/11).

Dirjen UNESCO, Irina Bokova berfoto bersama para volunteer pembersihan Candi Borobudur (19/11).

Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova, didampingi Menteri Pendidikan Nasional Indonesia Muhammad Nuh, Sabtu petang (19/11) meresmikan selesainya pembersihan candi Borobudur dari debu vulkanik akibat erupsi Merapi akhir 2010.

Menandai selesainya pembersihan debu vulkanik candi Borobudur akibat erupsi Merapi November 2010 lalu, dirjen UNESCO Irina Bokova menanda-tangani sebuah batu candi dan memasangkannya di lantai tiga.

Pada kesempatan itu, Dirjen UNESCO bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia juga menanam pohon bodhi di pelataran candi. Selanjutnya, ia menyerahkan penghargaan kepada wakil dari 550 relawan dari warga setempat, para penyandang dana dan wakil dari lembaga yang peduli Borobudur, Friends of Borobudur.

Irina Bokova menyampaikan terimakasih dan menekankan pentingnya usaha pelestarian candi antara lain untuk mengembangkan ekonomi warga sekitarnya.

“Melestarikan peninggalan sejarah ini sangatlah penting agar bisa mewariskannya kepada generasi berikutnya. Dan, sama pentingnya agar monument ini juga diapresiasi dan dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan oleh masyarakat sekitarnya. Hendaknya masyarakat sekitar tidak hanya mengembangkannya sebagai daya tarik wisata tetapi juga mengembangkan kerajinan dan upaya lainnya, guna meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Dirjen UNESCO Irina Bokova.

Untuk membersihkan abu vulkanik candi Borobudur menghabiskan dana USD 358.860, sumbangan dari sejumlah negara sahabat diantaranya Amerika Serikat, Australia, Polandia, dan New Zealand, serta pihak swasta.

Direktur UNESCO di Jakarta Hubert Gijzen mengatakan, proyek berikutnya yang tidak kalah penting adalah mengembangkan perekonomian warga sekitar candi.

Hubert Gijzen mengatakan, “Candi Borobudur kini sudah bersih, kami anggap program berkaitan dengan candi sudah selesai, namun masih banyak pekerjaan lain. Mata pencaharian masyarakat sekitar telah terkena imbas kondisi candi. Untuk itu kami juga ingin membantu mengembangkan usaha termasuk wisata budaya, eko-turisme, dan sebagainya. Karena itu, program berikutnya, kami ingin membantu mengembangkan mata-pencaharian para warga di sekitar Borobudur.”

Wakil Menteri bidang Kebudayaan Profesor Wiendu Nuryanti mengatakan, selesainya pembersihan candi Bodobudur justru menjadi awal untuk usaha-usaha pelestarian maupun pengembangan lainnya.

“Setelah ini nanti bisa dijadikan model proyek-proyek berikutnya, seperti umpamanya membantu dengan skema usaha kecil menengah masyarakat sekitarnya,” kata Profesor Nuryanti.

Pitoyo, salah satu warga yang bermukim di dekat candi dan menggantungkan penghidupannya dari jasa pariwisata candi Borobudur mengharapkan, Borobudur bisa memberikan kemakmuran warga sekitar.

“Waktu itu, sekitar 200 sampai 300 orang kerja bakti sekitar satu bulan, karena kita merasa memiliki candi. Harapan saya candi itu bisa memakmurkan masyarakat,” harap Pitoyo.

XS
SM
MD
LG