Tautan-tautan Akses

Diplomat-diplomat Internasional Hidupkan Kembali Gencatan Senjata di Suriah


Menlu John Kerry, kanan, bersama Menlu Yordania Nasser selama pertemuan bilateral mengenai Suriah di Jenewa, Swiss.

Menlu John Kerry, kanan, bersama Menlu Yordania Nasser selama pertemuan bilateral mengenai Suriah di Jenewa, Swiss.

Menlu AS John Kerry bertemu para diplomat internasional di Jenewa, untuk mengakhiri perang di Suriah. Rusia didesak untuk mempengaruhi Presiden Assad untuk menghentikan kekerasan. Militer Suriah akan menghentikan sementara serangan di sekitar Damaskus dan provinsi Latakia, tetapi tidak di Aleppo.

Kerry mengatakan mengakhiri pertumpahan darah di Aleppo merupakan prioritas utama. Sebagian besar korban adalah warga sipil. Rumah sakit-rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan juga menjadi sasaran. Pengeboman maut terhadap rumah sakit yang didukung kelompok amal medis Dokter Tanpa Tapal Batas pekan lalu menimbulkan protes internasional. Tetapi serangan udara tanpa henti terus berlanjut.

““Di sini di tengah kota, banyak klinik, termasuk klinik gigi, klinik untuk perempuan dan anak-anak, serta klinik penyakit dalam. Ada juga apotek. Ini menjadi sasaran dan sama sekali tak berfungsi hingga kita memperbaikinya,” ujar seorang warga Aleppo.

Berbicara di samping Menteri Luar Negeri Yordania hari Minggu, Menteri Kerry mendesak Rusia agar membantu memulihkan ketenangan.

“Ini adalah saat-saat kritis. Kami meminta kerjasama Rusia, kami menginginkan rezim Suriah agar mendengarkan Rusia dan agar menanggapi pernyataan keras masyarakat internasional melalui Dewan Keamanan PBB,” ujar John Kerry.

Para pejabat pemerintah Assad menyatakan mereka menarget teroris anggota Front al-Nusra yang membombardir daerah-daerah kekuasaan pemerintah dengan tembakan roket dan artileri.

Para pejabat Amerika mengesampingkan klaim yang mereka sebut tidak benar itu, seraya menyatakan serangan-serangan tersebut lebih banyak ditujukan pada warga sipil dan kelompok-kelompok moderat, semuanya merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Paus Fransiskus mengemukakan, “Saya merasa sangat sedih menerima kabar tragis dari Suriah terkait kekerasan yang meningkat yang terus memperburuk situasi kemanusiaan yang telah buruk di negara itu, terutama di kota Aleppo, dan menimbulkan korban yang tak berdosa, bahkan di kalangan anak-anak, orang-orang sakit dan mereka yang dengan pengorbanan besar berupaya membantu orang lain.”

Upaya-upaya perdamaian terbaru terganggu dengan absennya Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam pertemuan di Jenewa.

Sementara itu, militer Turki menewaskan 34 tentara ISIS di Suriah hari Minggu setelah meluncurkan serangan artileri dan pesawat tak berawak dari pangkalan udara Incirlik di Turki Selatan, sebut militer Turki dalam suatu pernyataan.

Media pemerintah di Turki melaporkan serangan-serangan itu menghantam beberapa posisi senjata dan peluncur roket.

Gempuran Turki itu terjadi setelah roket-roket ditembakkan dari Suriah ke arah kota Kilis, Turki, di perbatasan utara Suriah hari Minggu. Serangan roket itu mencederai delapan orang.

Dalam insiden terpisah hari Minggu, sebuah bom mobil diledakkan di depan kantor polisi di Gaziantep, kota Turki lainnya di dekat perbatasan dengan Suriah. Dua polisi tewas dan 22 lainnya luka-luka dalam serangan itu.

Belum ada yang mengklaim bertanggungjawab atas serangan terhadap kantor polisi, meskipun kelompok jihadis diyakini telah melancarkan dua serangan serupa di Istanbul awal tahun ini. [uh/ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG