Tautan-tautan Akses

Diperlukan Dialog atas Kekerasan di Burundi


Polisi Burundi mengumpulkan senjata dari kelompok orang bersenjata setelah bentrokan di bukota Bujumbura, Burundi, 12 Desember 2015.
Polisi Burundi mengumpulkan senjata dari kelompok orang bersenjata setelah bentrokan di bukota Bujumbura, Burundi, 12 Desember 2015.

Sedikitnya 87 orang tewas pada akhir minggu di ibukota Burundi, setelah orang-orang bersenjata menyerang tiga markas militer. Kekerasan itu merupakan yang terburuk sejak kudeta yang gagal bulan Mei lalu dan memicu seruan untuk mengadakan dialog dan penyelesaian regional yang ditengahi.

Keadaan kembali normal di ibukota Burundi sejak konflik hari Jumat (11/12).

Pasukan keamanan melawan orang-orang bersenjata yang belum teridentifikasi yang menyerang tiga pangkalan militer. Saksi mata mengatakan, pasukan keamanan kemudian menangkap sejumlah pemuda yang tinggal di kawasan yang beroposisi Jumat malam dan Sabtu.

Salah satu saksi yang tidak mau disebut namanya mengatakan, polisi melakukan pencarian dari rumah ke rumah, terutama di daerah Nyakabiga. Dia mengatakan, polisi memasuki rumah, menangkap pemuda dan kemudian membunuh beberapa dari mereka. Polisi mengatakan, mereka adalah orang-orang yang menentang pemerintah.

Polisi menyangkal tuduhan itu. Krisis itu dimulai April lalu ketika Presiden Pierre Nkurunziza mengumumkan pencalonan kembali dirinya untuk masa jabatan ketiga. Pengecam mengatakan, pencalonannya itu menyalahi UUD dan Perjanjian Arusha yang mengakhiri perang saudara di Burundi. Nkurunziza dipilih kembali bulan Juli dalam pemilu yang diboikot oleh oposisi.

Oposisi terhadap presiden makin banyak menimbulkan kekerasan minggu-minggu terakhir ini, dan hampir tiap hari terjadi bentrokan antara petugas siaga dan polisi.

Yolande Bouka adalah peneliti pada Institut Studi Keamanan Divisi Analisa Resiko dan Pencegahan Konflik. Dia mengkhawatirkan perkembangan terbaru di Burundi itu sangat meresahkan.

“Orang-orang yangmulanya melakukan demonstrasi damai, sebagian menjadi radikal atau merasa tidak melihat jalanpolitik untuk membuat perubahan nyata di Burundi. Tapi pasti ada perasaan yang jelas bahwa banyak hal akan berubah. Tapi yang pasti, jelas masih banyak orang yang menentang mandat ketiga Presiden Nkurunziza itu,” katanya.

Pasukan keamanan telah meningkatkan kehadiran mereka di ibukota, mencari senjata dan para pemuda yang mereka curigai terlibat dalam protes dan kelompok-kelompok bersenjata.

Juru bicara kepolisian, Pierre Nkurikiye mengatakan kepada VOA hari Senin, operasi sedang berlangsung.

Dalam pesan tweeternya hari Minggu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyerukan dialog dan mengatakan pembunuhan itu harus diakhiri termasuk, "tanggapan yang berlebihan oleh pasukan keamanan.” [ps/ii]

Recommended

XS
SM
MD
LG