Tautan-tautan Akses

Dibatasi di Twitter, Pengikut ISIS Berbondong-bondong ke Telegram


Dua orang pria menggunakan ponselnya di depan layar bergambarkan logo aplikasi Telegram. (Foto: Ilustrasi)

Dua orang pria menggunakan ponselnya di depan layar bergambarkan logo aplikasi Telegram. (Foto: Ilustrasi)

Setelah Twitter mengatakan telah menutup lebih dari 300.000 akun yang dicurigai menyebarkan ideologi ekstremisme, para pengikut ISIS telah semakin merajalela di Telegram.

Dipaksa keluar dari Twitter oleh aturan-aturan anti-teror yang semakin ketat, kelompok Negara Islam (ISIS) dan para pengikutnya semakin banyak menggunakan aplikasi pesan privat Telegram.

Hal ini membuat negara-negara Barat semakin waspada.

Di saat jutaan pengikut setia ISIS berkomunikasi satu sama lain lewat Telegram dan menyebarkan pesan-pesan radikalisme dan ekstremisme, Perancis dan Jerman minggu lalu mengatakan mereka ingin mendorong diperbolehkannya pemberantasan di Telegram.

"Komunikasi dengan enkripsi di antara teroris merupakan tantangan dalam penyelidikan," ujar pemerintah Perancis dan Jerman dalam pernyataan tertulis.

"Harus ada solusi-solusi untuk memungkinkan investigasi yang efektif...dan pada saat yang sama melindungi privasi digital warga negara dengan memastikan ketersediaan enkripsi yang kuat."

Para pejabat Perancis dan Jerman mengatakan mereka akan segera membawa isu ini ke para pemimpin Uni Eropa setelah para ekstremis ISIS dilaporkan menggunakan Telegram untuk merencanakan serangan-serangan baru-baru ini.

Belakangan ini, setelah Twitter mengatakan telah menutup lebih dari 300.000 akun yang dicurigai menyebarkan ideologi ekstremisme, para pengikut ISIS telah semakin merajalela di Telegram, menurut para analis.

Dalam kanal-kanal pribadi Telegram, para pengikut ISIS merinci rencana untuk meracuni orang-orang Barat dan melakukan serangan-serangan bom, menurut laporan.

Telegram, yang memiliki lebih dari 100 juta pengguna, mengatakan pihaknya tidak mengizinkan aktivitas-aktivitas terkait ekstremisme dalam kanal-kanal akses publik tapi tidak memantau perbincangan pribadi yang dirancang supaya terenskripsi dan rahasia.

"Telegram adalah opsi terbaik yang ada [untuk ISIS] karena melacak pengguna dan kelompok-kelompok di dalamnya bisa sangat sulit," ujar Mohammed Reza Jamshid, analis keamanan komputer di Iran.

"Bermigrasi dari Twitter menjadi satu-satunya pilihan untuk para blogger ISIS karena mereka ditekan dari semua sisi," ujar Jamshid.

ISIS mulai menggunakan Telegram untuk menyebarkan propaganda mereka bulan September 2015, tak lama setelah Telegram mengumumkan fitur bru bernama "Channels" yang membantu para pengguna terhubung secara anonim. [hd]

XS
SM
MD
LG