Tautan-tautan Akses

AS

Dialog Soal HAM AS dan Tiongkok Alami Kebuntuan


Asisten Menlu AS Bidang Demokrasi, HAM dan Perburuhan, Michael Posner menilai Beijing telah mengabaikan reformasi politik, meski mencapai kemajuan ekonomi luar biasa (foto: dok).

Asisten Menlu AS Bidang Demokrasi, HAM dan Perburuhan, Michael Posner menilai Beijing telah mengabaikan reformasi politik, meski mencapai kemajuan ekonomi luar biasa (foto: dok).

Pembicaraan tahunan hak asasi manusia antara Amerika dan Tiongkok hanya mencapai sedikit hasil, sebagian karena perbedaan dalam bagaimana kedua negara memandang kebebasan sipil, kata para analis.

Pembicaraan tahunan yang tertutup itu, berlangsung minggu ini di Washington, berakhir dengan cara yang sama seperti apa yang terjadi beberapa tahun terakhir, dimana Washington menuduh Beijing mengalami kemunduran dalam pelaksanaan HAM sedangkan Beijing menampik tuduhan itu sebagai mencampuri urusan dalam negerinya.

Asisten Menteri Luar Negeri Michael Posner mengatakan sementara Beijing telah mencapai pembangunan ekonomi "luar biasa" selama tiga dekade terakhir, Beijing telah mengabaikan reformasi politik.

"Selama periode ini, ratusan juta warga Tiongkok telah terangkat dari kemiskinan, dan ini adalah prestasi yang luar biasa," kata Posner. "Pada saat yang sama, kita melihat bahwa reformasi politik tidak sejalan dengan kemajuan ekonomi."

Sementara itu delegasi Tiongkok merilis pernyataan yang menyerukan kepada Amerika untuk "tidak bias dalam melihat” kondisi HAM Tiongkok. Ditunjukkan juga upaya terakhir Beijing untuk meningkatkan kehidupan masyarakat Tiongkok dengan berbagai reformasi hukum dan program jaminan sosial.

Analis hak-hak kebebasan yang berbasis di Hong Kong, Joshua Rosenzweig memberitahu VOA komentar-komentar itu mencerminkan pemahaman yang berbeda tentang HAM antara keduanya.

"Pihak Tiongkok, ketika tiba pada pembicaraan HAM, akan membicarakan tentang prestasi di bidang hak-hak ekonomi dan sosial, bagaimana hal itu membawa rakyat Tiongkok terentas dari kemiskinan. Sedangkan pihak Amerika cenderung melihat bagaimana Tiongkok tertinggal dalam perkembangan politik seperti dalam kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama,” ungkap Rosenzweig.

Rosenzweig mengatakan dengan perbedaan ini berarti daripada melakukan dialog yang bermakna, kedua belah pihak tidak saling mendengarkan dalam setiap pembicaran tahunan mereka, yang menghasilkan sangat sedikit kemajuan.

Posner, hari Rabu membela keberadaan dialog tahunan HAM itu, dengan mengatakan itu harus dilihat sebagai bagian dari strategi yang lebih besar dari hubungan Amerika-Tiongkok. Dia juga mengatakan dialog itu memberikan kesempatan untuk mengatasi kasus-kasus pelanggaran HAM tertentu oleh Tiongkok.

"Saya pikir pada waktunya kita menanggapi keinginan kuat mereka yang tinggal di Tiongkok bahwa kasus-kasus mereka, semua isu mereka, tidak dilupakan," kata Posner.

David Kelly, kepala penelitian tentang kebijakan Tiongkok yang berbasis di Beijing, memberitahu VOA bahwa Tiongkok juga puas dengan pembicaraan HAM itu.

"Pembicaraan ini merupakan peristiwa yang berguna bagi Tiongkok untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dunia dan mereka dapat berbicara dengan cara dewasa. Dan mereka menggunakan kesempatan ini untuk melabrak Amerika. Harus dikatakan, Tiongkok tidak takut untuk mengomentari situasi HAM di Amerika,” kata Kelly.

Tetapi pada akhirnya, kata Kelly, tanggapan Tiongkok atas kritikan terhadap HAM-nya akan ditentukan oleh prioritasnya sendiri, yaitu pemeliharaan stabilitas menjelang pergantian pimpinan Partai Komunis tahun ini.
XS
SM
MD
LG