Tautan-tautan Akses

Di Tengah Sanksi dan Isolasi, Pyongyang Bangun Gedung Bertingkat


Hotel Ryugyong, bangunan tertinggi yang sedang dibangun di Korea Utara, di Pyongyang (5/5). (Reuters/Damir Sagolj)

Hotel Ryugyong, bangunan tertinggi yang sedang dibangun di Korea Utara, di Pyongyang (5/5). (Reuters/Damir Sagolj)

Beberapa gedung bertingkat dengan 20 lantai atau lebih telah muncul di ibukota, beberapa terlihat hampir selesai dibangun.

Meski menghadapi isolasi politik dan ekonomi, ibukota Korea sedang berada dalam ledakan pembangunan.

Dalam perbandingan foto-foto yang diambil oleh Reuters minggu ini dan dalam kunjungan ke Pyongyang Oktober lalu, beberapa gedung bertingkat dengan 20 lantai atau lebih telah muncul di ibukota, beberapa terlihat hampir selesai dibangun.

Konstruksi tersebut, sebagian besar kelihatannya merupakan apartemen, muncul meskipun ada sanksi-sanksi PBB yang diperketat terhadap Korea Utara yang terisolasi, karena negara itu hendak membuat senjata nuklir dan program rudal balistik.

Hal ini merupakan bukti lebih jauh dari meningkatnya peran ekonomi pasar yang belum sepenuhnya disadari oleh pemerintah, namun mengubah lanskap dan memperbaiki kehidupan rakyat, setidaknya di bagian-bagian negara yang tetap miskin.

Lebih dari selusin pekerja yang memakai tali pengaman dalam gondola yang bergantung terlihat minggu ini menempelkan ubin di bagian luar sebuah bangunan rendah, di saat ibukota bersiap untuk kongres pertama partai penguasa dalam 36 tahun.

Kaki langit tidak hanya makin tinggi, tapi juga makin meriah dengan lonjakan pemasangan panel tenaga surya yang memakai lampu LED buatan lokal yang murah, membuat jendela apartemen bercahaya, meskipun masih tenggelam oleh patung-patung dan potret yang bersinar terang dan dipersembahkan untuk keluarga Kim yang berkuasa.

Uang untuk membiayai konstruksi didapat dari versi Korea Utara untuk kemitraan publik-swasta.

Investor-investor lokal yang dikelan sebagai "donju," atau "penguasa uang," yang meraup kekayaan dalam ekonomi pasar yang meningkat di Korea Utara, berinvestasi bersama pemerintah untuk membangun apartemen.

Blok-blok apartemen di Korea Utara seringkali diperuntukkan sesuai profesi, dengan kelompok-kelompok seperti guru, pekerja, atau ilmuwan dan keluarganya tinggal di bawah atap yang sama. Namun bisnis swasta yang meningkat dalam sektor properti dan lebih banyak investor swasta berarti bahwa, seperti juga di negara-negara lain, lokasi terbaik jatuh ke tangan penawar tertinggi.

"Dari perspektif negara itu baik -- mereka dapat memberitahukan rakyat bahwa standar kehidupan telah meningkat. Sementara itu, kapitalis dapat mendapatkan unit apartemen setelah pembangunan," ujar Lim Eul-chul, ahli Korea Utara Kyungnam University in South Korea. [hd]

XS
SM
MD
LG