Tautan-tautan Akses

Dewan Keamanan PBB Tolak Resolusi Gencatan Senjata Suriah


Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (kiri) bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry (kanan) di sela-sela KTT Dialog Mediterania di Roma (2/12).

Seperti perjanjian gencatan senjata sebelumnya di Suriah, resolusi tidak berlaku untuk serangan terhadap kelompok-kelompok militan seperti Negara Islam (ISIS).

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang beranggotakan 15 negara telah menolak resolusi yang menyerukan gencatan senjata selama tujuh hari di kota Aleppo, Suriah utara, setelah Rusia mengeluh keputusan pemungutan suara itu akan merongrong perundingan lainnya untuk mengakhiri pertempuran di kota itu yang telah berlangsung berbulan-bulan.

China dan Venezuela juga menentang resolusi itu, yang memerlukan persetujuan bulat, sedang Angola abstain.

Menjelang pemungutan suara Senin (5/12), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan ia akan mengadakan pembicaraan hari Selasa atau Rabu dengan Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry di Jenewa.

"Dalam konsultasi Rusia-Amerika itu, rute konkret dan jangka waktu bagi penarikan semua pejuang dari Aleppo Timur akan disepakati," kata Lavrov.

Para pejabat Amerika belum mengkonfirmasi pembicaraan mereka sampai Senin sore, dan tidak ada komentar segera Amerika mengenai pemungutan suara Dewan Keamanan.

Resolusi yang disusun oleh Mesir, Spanyol dan Selandia Baru itu mengatakan Dewan akan mempertimbangkan perpanjangan waktu untuk menghentikan pertempuran.

Rancangan itu melarang serangan "dengan senjata apa pun," termasuk serangan udara dan mortir yang telah digunakan untuk menghancurkan daerah luas di kedua wilayah yang dikuasai pemberontak dan bagian-bagian Aleppo yang dikuasai pemerintah.

Juga diserukan "akses tanpa hambatan" untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.

Seperti perjanjian gencatan senjata sebelumnya di Suriah, resolusi tidak berlaku untuk serangan terhadap kelompok-kelompok militan seperti Negara Islam (ISIS) atau kelompok-kelompok ekstremis lainnya yang berjuang bersama pemberontak di sektor timur Aleppo.

Adanya penghentian pertempuran sebelumnya berhasil mengirim bantuan yang sangat dibutuhkan warga sipil, tapi hanya kecil dampaknya dalam perang yang telah menewaskan lebih dari 400.000 orang.

Aleppo, kota terbesar dan paling makmur di Suriah sebelum perang saudara pecah hampir enam tahun yang lalu, dan saat ini merupakan pusat serangan militer Suriah yang didukung Rusia untuk merebut kembali kawasan itu dari pemberontak di bagian timur. [sp/isa]

XS
SM
MD
LG