Tautan-tautan Akses

AS

Dewan Juri New York Tak Tuntut Polisi Terkait Pencekikan sampai Mati


Foto Eric Garner di sebuah memorial di tempat ia meninggal dalam penahanan Juli lalu di Staten Island, New York (3/12). (Reuters/Shannon Stapleton)

Foto Eric Garner di sebuah memorial di tempat ia meninggal dalam penahanan Juli lalu di Staten Island, New York (3/12). (Reuters/Shannon Stapleton)

Warga Staten Island, New York, Eric Garner, seorang ayah enam anak berusia 43 tahun, meninggal pada 17 Juli setelah polisi memiting dan mencekiknya.

Dewan juri di kota New York pada Rabu (3/12) memutuskan untuk tidak menuntut seorang polisi berkulit putih terkait pencekikan seorang pria berkulit hitam tak bersenjata sampai tewas pada Juli.

Polisi tersebut, Daniel Pantaleo, terlihat dalam video yang tersebar secara luas dan direkam pada 17 Juli, dengan lengan mencengkeram leher Eric Garner, memitingnya di tanah dalam upaya menahannya karena diduga menjual rokok ilegal di Staten Island.

Garner, berusia 43 tahun dan bertubuh gemuk, memiliki asma dan berulangkali berbisik sambil terengah-engah, "Saya tidak bisa bernafas!". Polisi tidak mengindahkannya dan baru menyadari Garner meninggal setelah tubuhnya tak bergerak lagi.

Petugas medis kota tersebut mengatakan kematian Garner adalah pembunuhan akibat pencekikan dan tekanan di dadanya oleh para polisi. Para pejabat Departemen Kepolisian New York mengatakan teknik pencekikan secara umum tidak diizinkan.

Para pejabat serikat polisi dan pengacara Pantaleo beralasan bahwa polisi itu menggunakan gerakan membanting ke tanah yang diajarkan di departemen kepolisian, bukan manuver yang dilarang, karena Garner menolak ditahan. Mereka mengatakan kesehatan buruk pria itu adalah alasan utama ia tewas.

Keputusan dewan juri ini mengakibatkan ribuan orang turun ke jalan di kota itu dan beberapa kota lain di Amerika, Rabu malam, sebagai aksi protes.

Dengan memegang spanduk dan poster diantaranya bertuliskan “Black Lives Matter (Nyawa Warga Kulit Hitam Berharga)”, “Fellow White People – Wake Up! (Sahabat Berkulit Putih - Bangunlah!)”, dan “Once Again No Justice (Sekali Lagi Tidak Ada Keadilan)”, warga menunjukkan kekecewaan dan kemarahan atas keputusan juri tersebut.

Sekitar 40 demonstran berbaring di tengah balairung utama Grand Central Station di Manhattan, aksi diam yang berlangsung di tengah jam sibuk kota New York. Demonstrasi serupa juga terjadi di Dupont Circle dan beberapa kawasan lain di ibukota Washington, DC.

Dalam upaya meredakan ketegangan, Jaksa Agung Eric Holder Rabu malam memutuskan akan membuka penyelidikan federal untuk mengetahui ada tidaknya pelanggaran hak-hak sipil dalam kematian Garner. Keluarga Eric Garner dan beberapa aktivis HAM sebenarnya telah dua kali meminta dilakukannya penyelidikan tersebut.

Keputusan juri Staten Island New York ini hanya berselang dua minggu dari keputusan serupa yang diambil juri kota Ferguson, Missouri, yang memutuskan tidak menuntut polisi kulit putih Darren Wilson yang menembak remaja kulit hitam tidak bersenjata Michael Brown karena merasa terancam.

Keputusan juri Ferguson ketika itu juga memicu demonstrasi dan kerusuhan selama berhari-hari.

Presiden Barack Obama bereaksi cepat menanggapi keputusan juri New York dengan mengatakan keputusan itu menggarisbawahi rasa frustrasi banyak warga Afrika Amerika, yang merasa bahwa “penegakan hukum tidak berpihak dan bersikap adil pada mereka”.

Walikota New York Bill de Blasio menyebut hari ini sebagai “hari sangat emosional” bagi keluarga Eric Garner dan seluruh warga kota New York. Blasio juga mengakui bahwa banyak orang tidak setuju dengan keputusan juri kota itu.

XS
SM
MD
LG