Tautan-tautan Akses

Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Solo


Kapenum Polri Brigjen Boy Rafli Amar dengan senjata rakitan sitaan dari Tambora Jakarta dan Beji depok (Foto: VOA/Andylala).

Kapenum Polri Brigjen Boy Rafli Amar dengan senjata rakitan sitaan dari Tambora Jakarta dan Beji depok (Foto: VOA/Andylala).

Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri berhasil menangkap delapan terduga teroris di Solo Jawa Tengah, Jum’at (21/9) dan Sabtu (22/9).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jendral Polisi Boy Rafli Amar menjelaskan, Detasemen khusus 88 anti teror Mabes Polri, telah menangkap delapan terduga teroris di Solo, Jawa Tengah di beberapa tempat yang berbeda.

"Yang ditangkap total jumlahnya ada delapan. Penangkapan mereka ini terkait hasil penyelidikkan bom rakitan di Tambora dan Depok. Nanti kita tunggu dulu hasil pemeriksaannya," ungkap Boy Rafli. "Nanti kalo berkait dengan orang-orang lain, kita kejar terus," tambahnya.

Menurut Boy Rafli, penangkapan ini berlangsung Jum’at dini hari (21/9) hingga Sabtu (22/9). Sebelumnya polisi menangkap dua orang terduga teroris berinisial BH dan RK. Setelah memeriksa keduanya, polisi kemudian berhasil menangkap enam orang lainnya, yang berinisial YP, FN, BN, K, IV, dan N.

Dari hasil penggeledahan di kediaman BH, ditemukan sebelas detonator, bahan kimia, bahan-bahan campuran untuk pembuatan bom dan lainnya.

"Detonatornya ada 11, bom botol ada 20, bom pipa ada empat dan perlengkapan-perlengkapan bom lainnya," kata Boy Rafli. "Di lokasi penggerebekan lainnya ditemukan bom cair, cairan kimia Nitroglycerin, empat bom pipa aktif, serta bahan campuran untuk bom. Tim puslabfor masih periksa temuan barang bukti ini untuk lebih jelasnya nanti," ujar Ka Biro Penerangan Masyarakat Polri ini.

Dalam bulan Agustus-September 2012, Kepolisian telah menggeledah, menangkap, serta menembak mati terduga teroris di Jakarta, Bandung, Bojong, Depok, dan Solo.

Di Solo, polisi menembak mati Farhan dan Mukhsin 31 Agustus lalu. Keduanya diduga adalah bagian dari kelompok jaringan teroris besar dan berbahaya. Kelompok ini terbentuk dari jaringan kelompok pelaku bom bunuh diri di Masjid Ad-Dzikro, Cirebon, dan Gereja Bethel Injil Sepenuh, Solo. Polisi juga menangkap satu terduga teroris, Bayu, di Desa Bulurejo, Gondangrejo, Karanganyar.

Terkait insiden ledakan di Depok, polisi telah menahan Yusuf Rizaldi. Yusuf menyerahkan diri ke Polsek Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara, 12 September lalu. Insiden ini juga menyebabkan Wahyu Ristanto alias Anwar, yang disebut mahir merakit bom, tewas akibat luka bakar.

Di Tambora, Jakarta, polisi menemukan bahan peledak tanggal 5 September lalu. Polisi memastikan, Muhamad Thariq, penghuni rumah tersebut, adalah pelaku teror.

Terkait kepemilikan bahan peledak itu, polisi juga telah menangkap Arif pada 10 September lalu. Arif diduga memiliki kedekatan dengan Thorik dan terduga teroris lainnya di Beji, Depok. Sementara itu di Bojong, polisi menemukan bahan peledak yang serupa dengan bahan-bahan yang ditemukan di Tambora.

Kepala Badan Intelijen Negara, Marciano Norman, 9 September lalu mengingatkan bahwa aksi teror bom yang terus terjadi belakangan ini, masih akan terus berlangsung.

"Berkaitan dengan rangkaian kegiatan teroris belakangan ini, sebetulnya komunitas intelijen baik itu badan intelijen negara, kepolisian, BNPT dan komando territorial di daerah selalu bekerjasama untuk melakukan upaya-upaya pendeteksian secara dini," ungkap Marciano Norman. "Dengan terjadinya peristiwa Beji, BIN mengingatkan, kejadian ini tidak akan berakhir disini. Ini pasti akan terus ada gulirannya," tegasnya.
XS
SM
MD
LG