Tautan-tautan Akses

Demonstrasi Zimbabwe Meningkat, Tapi Akankah Bawa Perubahan?


Pendukung partai oposisi bentrok dengan polisi (26/8). Harare, Zimbabwe (foto: REUTERS/Philimon Bulawayo)

Pendukung partai oposisi bentrok dengan polisi (26/8). Harare, Zimbabwe (foto: REUTERS/Philimon Bulawayo)

Unjuk rasa oposisi di jalanan kota Harare bisa disimpulkan dalam satu kata, dalam bahasa Shola Zvakwana, dalam bahasa Ndebele sokwanele yang artinya cukup.

Kekecewaan demonstran oposisi yang tumpah ke jalan di ibukota Zimbabwe hari Jumat bisa disimpulkan dalam satu kata, dalam bahasa Shola Zvakwana, dalam bahasa Ndebele sokwanele yang artinya cukup.

“Keputusasaan rakyat sangat mendalam” kata mantan perdana menteri Morgan Tsvangirai, yang sebelumnya dianggap sebagai tokoh oposisi terkuat di negara itu. “Tidak boleh menyerah. Harus terus disampaikan, tingkat keputusasaan yang dihadapi rakyat Zimbabwe, sehingga kita bisa mengatasi masalah ini. Tapi saya sangat senang warga Zimbabwe mulai mengatakan: cukup sudah.”

Hari Jumat, slogan itu membuat ratusan orang berkumpul di jalan-jalan yang lebar di pusat Harare dimana sebagian berhenti untuk mencabut papan nama jalan yang menggunakan nama sasaran kekecewaan mereka yaitu Presiden Robert Mugabe.

Demonstran dalam protes ini dan protes sebelumnya mengatakan mereka lelah dengan kemiskinan, tekanan dan penumpasan pembangkang, dan korupsi. Terutama makin banyak warga Zimbabe yang mengatakan mereka lelah dengan laki-laki yang menyebabkan hal ini yang telah memerintah negara itu selama lebih dari 35 tahun, Presiden Mugabe.

Wartawan VOA yang berada di lokasi mengatakan demonstran memblokir jalan-jalan, membakar ban dan melempar batu ke arah polisi, pendukung partai yang berkuasa dan bangunan-bangunan di pusat Harare. Kekacauan itu menyebabkan para pedagang di pusat perdagangan itu menutup toko-toko mereka. [my/al]

XS
SM
MD
LG