Tautan-tautan Akses

Demonstran Anti-Pemerintah Bentrok dengan Polisi di Yaman

  • Edward Yeranian
  • Wita Sholhead

Demonstran anti pemerintah di Yaman merayakan pengunduran diri Presiden Mubarak sambil terus menuntut mundurnya Presiden Saleh, Sabtu (12/2).

Demonstran anti pemerintah di Yaman merayakan pengunduran diri Presiden Mubarak sambil terus menuntut mundurnya Presiden Saleh, Sabtu (12/2).

Kelompok-kelompok pemuda Yaman yang turut merayakan jatuhnya Presiden Hosni Mubarak bentrok dengan aparat keamanan di ibukota Sana'a.

Ribuan pemuda Yaman turun ke jalan-jalan ibukota Yaman, Sana’a, Jumat malam sampai hari Sabtu untuk menyatakan kegembiraan atas pengunduran diri Presiden Mesir Hosni Mubarak.

Para saksi mata mengatakan demonstrasi terjadi secara spontan di berbagai wilayah Sana’a, dan para demonstran juga berupaya menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Mesir.

Redaktur kepala surat kabar Yemen Post Hakim Almasmari mengatakan pasukan keamanan bentrok dengan para demonstran. Sejumlah demonstran dilaporkan cedera dalam bentrokan itu. Almasmari menambahkan beberapa orang juga ditangkap.

Ia mengatakan, "Semalam terjadi demonstrasi besar-besaran, tetapi hari ini demonstrasi tidak sebesar seperti tadi malam. Semalam kami perkirakan ada sekitar 50.000 demonstran. Hari ini jumlahnya jauh lebih kecil, tidak lebih dari 5.000. Enam orang ditangkap, empat di antaranya dari kelompok oposisi dan satu atau dua dari kelompok demonstran anti-pemerintah. Jadi, mereka yang terlihat sebagai penyebab kekacauan ditangkapi.”

Almasmari mengatakan beberapa pemimpin oposisi berupaya “memanfaatkan krisis di Mesir untuk mengedepankan nasib politik mereka sendiri.”

Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh bertekad untuk mengajukan serangkaian reformasi ke parlemen minggu lalu. Almasmari mengatakan menurutnya iklim politik di Yaman cukup memungkinkan untuk mengadakan gerakan protes model Mesir dalam beberapa minggu mendatang apabila reformasi tidak diterapkan.

Pakar Yaman pada Universitas Princeton Gregory Johnsen setuju dengan Almasmari bahwa ada kemungkinan demonstrasi rakyat, serupa dengan yang terjadi di Mesir, menyebar ke Yaman. Ia mengatakan, "Pemerintahan Presiden Saleh saat ini memasuki periode yang sangat menentukan. Menurut saya dalam tiga bulan mendatang dari sekarang sampai Hari Penyatuan Yaman pada 22 Mei akan menjadi saat yang sangat genting bagi Presiden Saleh apabila ia ingin tetap berkuasa dan tidak mengalami apa yang terjadi dengan Bin Ali di Tunisia dan Presiden Mubarak di Mesir.”

Johnsen mengatakan demonstrasi yang terjadi dalam 24 jam terakhir ini “di luar organisasi payung gerakan oposisi JMP” menunjukkan ketidakpuasan rakyat bisa meluas.

Johnsen mengatakan negara-negara Barat, termasuk Amerika khawatir Al-Qaida bisa memanfaatkan kekosongan politik apabila Presiden Saleh digulingkan. Ia menambahkan Al-Qaida bisa “berada dalam posisi yang menguntungkan untuk melancarkan serangan” terhadap Amerika atau negara-negara Eropa kalau hal itu terjadi.

XS
SM
MD
LG