Tautan-tautan Akses

Delegasi Indonesia Belajar dari Pengalaman Negara Lain Atasi AIDS


Salah satu tujuan delegasi Indonesia menghadiri konferensi internasional AIDS di Washington DC adalah untuk mengetahui temuan terbaru yang mungkin bermanfaat bagi Indonesia.

Salah satu tujuan delegasi Indonesia menghadiri konferensi internasional AIDS di Washington DC adalah untuk mengetahui temuan terbaru yang mungkin bermanfaat bagi Indonesia.

Konferensi AIDS Internasional 2012 di Washington DC awal pekan lalu dihadiri oleh sekitar 25.000 orang dari hampir 200 negara, termasuk Indonesia.

Wartawan VOA Vina Mubtadi berbincang-bincang dengan beberapa delegasi Indonesia tentang misi mereka ke konferensi AIDS Internasional yang ke-19 ini.

Ribuan orang pekan ini memadati Konferensi AIDS Internasional di Pusat Konvensi Walter E. Washington dengan semangat yang sama; yaitu bagaimana mengurangi infeksi HIV/AIDS ke titik nol.

Indonesia juga memiliki semangat yang sama. Tahun ini, Indonesia mengirim delegasi yang terdiri dari puluhan orang dari kalangan pemerintahan, DPR, akademisi, LSM, aktivis, serta orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.

Zubairi Djoerban adalah Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia. Ia mengatakan salah satu tujuan mereka menghadiri konferensi ini adalah untuk mengetahui temuan terbaru yang mungkin bermanfaat bagi Indonesia.

Zubairi Djoerban adalah Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia.

Zubairi Djoerban adalah Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia.

“Pengalaman Amerika menunjukkan bahwa salah satu parameter terpenting dari pencegahan adalah tes HIV, jadi semakin banyak yang dites HIV semakin baik, dan Amerika telah membuktikannya. Afrika Selatan telah melakukan 15 juta tes, Tiongkok juga telah melakukan 80 juta tes tahun lalu dan itu berhasil untuk menemukan dan mengobati banyak ODHA. Untuk Indonesia saya harap kita bisa melakukan tes HIV lebih banyak. Kalau tahun ini bisa tes 15 juta, bermakna untuk ke depannya,” kata Zubairi Djoerban.

Sementara itu, Dede Oetomo dari organisasi Gaya Nusantara hadir di konferensi ini mewakili komunitas LSL atau Lelaki Sex Dengan Lelaki di Indonesia. LSL adalah salah satu kelompok yang paling berisiko terinfeksi HIV, selain pekerja seks dan pengguna obat-obatan terlarang lewat suntikan.

Dede mengatakan kepada VOA, untuk mengatasi masalah HIV/AIDS, obat saja tidak cukup, namun perlu dukungan sosial dan politik.

“Kita semua tahu bagaimana mencegah HIV/AIDS dengan baik tapi koq ngga gerak sih? Pemerintah belum gerak. Pemberi dana setengah hati. Pendekatannya terlalu simplistik, terlalu sederhana. Dikira dengan obat selesai. Sekarang obat sampai ke mulut pasien gimana? Nanti kalau dilihat orang koq bawa obat itu? Distigma AIDS yah? Dituduh pelacur yah? Nakal yah? Gay yah? Ini yg blm selesai,” ujar Dede Oetomo.

Masalah sosial juga menjadi keprihatinan bagi kelompok Ikatan Perempuan Positif Indonesia yang menaungi perempuan yang terkena HIV atau memiliki pasangan yang HIV positif. Ayu Oktariani, adalah salah seorang anggota direksi IPPI yang terinfeksi HIV dari pasangannya.

Ayu mengatakan, “HIV itu bukan lagi masalah si ODHA-nya aja, tapi masalah semuanya. HIV ini hanya impact. Yang harus diperbaiki itu bukan HIV-nya lagi, tapi bagaimana kehidupan sosial, ekonomi, budayanya. Kenapa budaya patriarki dipertahankan di Indonesia dan akhirnya perempuan terinfeksi hanya karena budaya patriarki?”

Termasuk dalam delegasi Indonesia adalah anggota Komisi IX DPR RI, Okky Asokawati, yang bertemu dengan sesama anggota parlemen dari negara lain untuk membahas epidemi ini.

Ia mengatakan kepada VOA mengenai pentingnya peran DPR dalam pemberantasan HIV/AIDS di Indonesia.
“Penting bagi parlemen untuk melakukan advokasi agar jangan ada stigma dan diskriminasi. Agar kebijakan-kebijakan yang diambil berpihak kepada ODHA. Kami bertindak sebagai agent of change, agar masyarakat tahu cara pencegahan HIV/AIDS,” papar Okky Asokawati.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 300.000 orang di Indonesia terinfeksi HIV dan lebih dari enam juta orang berisiko tertular virus tersebut.
XS
SM
MD
LG