Tautan-tautan Akses

Delegasi Carter Bantu Upayakan Perundingan Kembali Dua Korea

  • Steve Herman

Mantan Presiden AS Jimmy Carter dan tiga anggota 'The Elders' bertemu Kim Youngnam dalam pertemuan di Pyongyang (27/4).

Mantan Presiden AS Jimmy Carter dan tiga anggota 'The Elders' bertemu Kim Youngnam dalam pertemuan di Pyongyang (27/4).

Empat mantan pemimpin negara berada tiga hari di Pyongyang untuk mendorong dimulainya lagi perundingan antara kedua Korea.

Mantan Presiden Amerika Jimmy Carter menyampaikan bahwa delegasinya gagal bertemu Kim Jong-il, tetapi seorang wakil menteri Korea Utara membacakan pesan dari pemimpin Korea Utara tersebut.

Carter mengatakan, “Mereka memberitahu kepada kami bahwa mereka sangat ingin membahas isu nuklir atau isu militer lainnya secara langsung dengan Korea Selatan, termasuk pada tingkat tinggi antara Kim Jong Il dan Presiden Korea Selatan.”

Namun, delegasi ini tidak bisa menyampaikan tawaran itu secara langsung kepada Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, yang tidak bertemu mereka.

Selain Carter, delegasi ke Pyongyang itu juga terdiri dari mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, mantan Perdana Menteri Norwegia, Gro Harlem Brundtland, dan mantan Presiden Irlandia, Mary Robinson. Mereka adalah anggota kelompok mantan kepala negara yang dikenal dengan sebutan The Elders.

Setelah penerbangan dari Pyongyang ke Seoul, Kamis, keempat mantan pemimpin negara memberi penjelasan kepada dua menteri Korea Selatan dan berbicara kepada wartawan. Mereka mengatakan para pejabat Korea Utara bersikeras bahwa Korea Utara tidak akan mengakhiri program senjata nuklirnya tanpa adanya jaminan keamanan dari Amerika.

Perundingan untuk mengakhiri program nuklir Korea Utara macet dua tahun lalu.

Juru runding Tiongkok dalam perundingan itu, Wu Dawei, berada di Seoul minggu ini untuk membicarakan cara-cara memulai lagi perundingan itu. Tiongkok menyarankan agar Korea Utara pertama-tama bertemu Korea Selatan dan baru kemudian dengan Amerika.

Korea Utara telah melakukan dua uji coba senjata nuklir dan diyakini punya cukup plutonium untuk membuat sekitar enam bom nuklir.

Keempat utusan delegasi yang dipimpin Carter ini menekankan kunjungan mereka terutama ditujukan untuk mencari tahu isu krisis kemanusiaan Korea Utara. Carter mengatakan kepada wartawan bahwa ia meragukan pihak luar bisa mengubah sikap Pemerintah Korea Utara mengenai HAM. Tapi, ia mengatakan bahwa seluruh dunia punya kewajiban mengurangi penderitaan mereka yang kelaparan di negara komunis tersebut.

Lebih lanjut Carter mengatakan, “Salah satu isu HAM terpenting adalah memberi bantuan pangan. Bagi Korea Selatan, Amerika dan lainnya, menahan bantuan pangan secara sengaja kepada warga Korea Utara karena alasan politik atau militer yang tidak berkaitan adalah jelas merupakan pelanggaran HAM.”

Hubungan antara kedua Korea mendingin sejak lebih dari setahun lalu. Korea Selatan menginginkan permintaan maaf atas dua insiden tahun lalu sebelum memulai lagi perundingan tingkat tinggi dengan Korea Utara. Carter mengatakan Korea Utara menyesali kedua insiden, tetapi tidak akan meminta maaf di muka publik internasional.

XS
SM
MD
LG