Tautan-tautan Akses

AS

Debat Biden dan Ryan Fokus pada Ekonomi, Timur Tengah


Wakil Presiden AS Joe Biden (kiri) dan kandidat wakil presiden Partai Republik Paul Ryan dalam debat di Centre College, Danville, Kentucky. (Foto: AP)

Wakil Presiden AS Joe Biden (kiri) dan kandidat wakil presiden Partai Republik Paul Ryan dalam debat di Centre College, Danville, Kentucky. (Foto: AP)

Debat para kandidat wakil presiden AS, Joe Biden dan Paul Ryan, fokus pada masalah ekonomi di AS dan kebijakan politik untuk Timur Tengah.

Kandidat wakil presiden dari Partai Republik, Paul Ryan, mengatakan bahwa warga Amerika sedang menyaksikan “kekacauan absolut” dalam pemerintahan pada saat di mana “masalah meningkat di luar negeri namun lapangan pekerjaan tidak tumbuh di dalam negeri.”

Dalam sebuah debat yang disiarkan televisi secara nasional pada Kamis malam (11/10) atau Jumat pagi waktu Indonesia di universitas kecil negara bagian selatan tengah Kentucky, Ryan dan Wakil Presiden AS Joe Biden melawan kebijakan satu sama lain terhadap Afghanistan, dengan pernyataan Biden bahwa pasukan AS akan meninggalkan Afghanistan pada 2014 sementara Ryan akan mengambil langkah yang lebih melihat situasi terkait penarikan tersebut.

“Kita tidak ingin mengumumkan pada musuh kita, ‘Tandai kalender Anda. Tunggu kita keluar dan silakan kembali,” ujar Ryan.

Terkait Suriah, Biden memuji kerja sama yang hati-hati antara pemerintahan Obama yang dengan sekutu Amerika dalam menekan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, untuk turun.

“Kami melakukan apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang, faktanya, akan memberikan pemerintahan yang stabil dan tidak akan menimbulkan perang wilayah antara Sunni-Syiah jika Bashar Assad jatuh,” ujar Biden.

Ryan mengatakan sudah lebih dari setahun sejak tekanan internasional memuncak dan Presiden Barack Obama mengatakan bahwa presiden Suriah harus mundur. Ia mengatakan pemerintahan Obama seharusnya “memiliki rencana yang lebih baik” yang “lebih mudah mengidentifikasi” para sekutu Suriah, namun malah membiarkan puluhan ribu orang mati dalam konflik dan lebih banyak lagi pasukan asing “tumpah” ke negara itu.

Saat membahas krisis keuangan AS, Biden memberitahu anggota Kongres dari Partai Republik termasuk Ryan, untuk “minggir” dan membiarkan pemerintahan Obama memperbaiki ekonomi.

Biden menyalahkan Partai Republik untuk resesi ekonomi di negara tersebut.
"Mereka membicarakan resesi besar ini seolah-olah jatuh dari langit dan berkata ‘Ya Tuhan, dari mana ini datangnya?’ Itu datang dari pria yang memilih untuk memasukkan dua perang ke dalam kartu kredit,” ujar wakil presiden tersebut.

Ryan membalas dengan mengatakan bahwa Presiden Barack Obama dan anggota Kongres dari Partai Demokrat menguasai pemerintahan pada 2008 dengan “kontrol satu partai” yang memberikan mereka kemampuan untuk berbuat “semua yang bisa mereka pilih.” Ia menambahkan bahwa pemerintahan Obama memberitahu warga Amerika bahwa jika stimulus diberikan, ekonomi akan tumbuh 4 persen, namun ternyata hanya tumbuh 1,3 persen.

Terkait Libya, Biden menyebut serangan fatal bulan lalu terhadap Duta Besar AS untuk Libya “sebuah tragedi,” dan berjanji bahwa “kesalahan-kesalahan” apapun yang dibuat “tidak akan terjadi lagi.”

Ryan menyerang pemerintahan Obama karena tidak menyediakan cukup pengamanan di Benghazi dan menunggu “dua minggu untuk menyadari bahwa itu sebuah serangan teroris.”

"Duta besar kita di Paris memiliki penjaga marinir. Bukankah seharusnya ada penjaga marinir juga untuk duta besar kita di Benghazi, tempat yang kita ketahui memiliki sel al-Qaida dengan senjata?” ujarnya.

Wakil Presiden Biden membantah dengan mengatakan bahwa Presiden Barack Obama tidak mendapat informasi bahwa konsulat tersebut memerlukan pengamanan yang lebih besar.

Untuk masalah Iran, Ryan mengatakan bahwa republik Islam tersebut menjadi “kurang ajar” karena pemerintah Obama “tidak memiliki kredibilitas” dalam isu program nuklir Iran. Biden menyangkal klaim tersebut dengan menegaskan bahwa AS telah meletakkan “sanksi yang sangat melumpuhkan dalam sejarah sanksi” untuk Iran.

Debat pada Kamis malam tersebut berlangsung saat kandidat presiden Partai Republik Mitt Romney mendapat momentum dalam survei pendapat pemilih setelah penampilannya yang kuat dalam debat minggu lalu melawan Presiden Obama.

Biden, 69, secara luas dikenal sebagai pendebat yang berpengalaman dan politisi yang handal, akibat pengalamannya selama 36 tahun di Senat sebelum menjadi wakil presiden pada 2009.

Ryan, 42, adalah anggota Kongres dari negara bagian Wisconsin, dan dianggap sebagai bintang yang menanjak di antara kalangan konservatif Partai Republik.

Para calon presiden ini telah kembali berkampanye Kamis, dengan Obama berkampanye di negara bagian Florida. Romney menyapa pendukungnya di North Carolina sebelum berencana datang ke negara-negara bagian penting atau “battleground states” Virginia dan Ohio pada Jumat. Keempat negara bagian ini memiliki suara elektoral gabungan 75 dari total 270 yang diperlukan untuk memenangkan pemilihan umum 6 November nanti.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG