Tautan-tautan Akses

AS

Bill de Blasio, Politisi Liberal yang akan Pimpin Kota New York

  • Adam Phillips

Bill de Blasio, tokoh partai Demokrat pertama yang menjadi Walikota New York dalam dua puluh tahun terakhir (foto: dok).

Bill de Blasio, tokoh partai Demokrat pertama yang menjadi Walikota New York dalam dua puluh tahun terakhir (foto: dok).

Pekan lalu warga kota New York mencapai kesepakatan untuk memilih Bill de Blasio – seorang politisi yang tidak segan mengaku beraliran liberal – untuk menjadi walikota “the Big Apple” berikutnya.

Walikota terpilih Bill de Blasio, yang akan menjadi tokoh Demokrat pertama yang berkuasa di kota New York dalam dua puluh tahun terakhir.

Dalam apa yang digambarkan banyak analis sebagai penolakan terhadap gaya konservatif dan kebijakan fiskal mantan walikota Michael Bloomberg, 70% warga kota New York secara solid memilih tokoh Demokrat – Bill de Blasio – untuk memimpin kota itu selama empat tahun mendatang.

Alec – warga Manhattan berusia 30 tahun – mendukung de Blassio tetapi belum yakin bahwa akan ada perubahan nyata. Ia mengatakan, “Saya gembira bahwa kita akhirnya memiliki seseorang yang bukan berasal dari bisnis. Tetapi saya sangat ragu bahwa ia akan berbeda dari pendahulunya karena berapa besar kekuasaan yang dimilikinya untuk menentang dewan kota, pengembang pemukiman dan sebagainya?. Tetapi saya gembira bahwa akhirnya kita memiliki orang yang progresif. Ia sepertinya tokoh yang menarik!”.

Salah seorang pendukung de Blassio lainnya – Celia Reiss – menyukai beberapa kebijakan Michael Bloomberg, tetapi tidak menyukai gaya otoriternya.

"De Blasio – saya kira – akan baik bagi New York. Semoga ia akan menghentikan kebijakan pemeriksaan terhadap warga minoritas dan meningkatkan upah minimum untuk New York. Saya merasa ia akan lebih berpihak pada orang kelas bawah dan menengah yang membutuhkan bantuan. Saya sangat senang!,” ujar Celia.

Sebagai sesama liberal, Gene suka aliran politik de Blassio. Tetapi sebagai seorang pemilik bar, ia tidak yakin apa dampak terpilihnya de Blassio bagi usaha kecilnya.

“Sulit menilai keberadaan seorang walikota liberal dalam bisnis seperti ini, apakah kita akan lebih dikendalikan atau justru lebih longgar. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, ini akan menjadi saat yang mengkhawatirkan sampai kita tahu apa yang akan dilakukannya,” kata Gene.

Dalam kampanyenya, Bill de Blassio kerap bicara tentang New York sebagai kota yang terpecah-belah. Ia membandingkan kelompok elit internasional yang kaya raya dan menguasai hampir seluruh kawasan Manhattan, dengan kelompok lain – termasuk kelompok etnis dan ras minoritas di kota itu. Sebagian besar warga kota New York tinggal di kota lain yang tidak begitu glamor, di luar Manhattan (four-boroughs) dan banyak diantara mereka hidupnya pas-pasan.

Pesan ini mengena pada warga Manhattan Chris Lund yang sedang menikmati kopi di pagi hari.

“Ia tidak bisa melakukan semua yang diinginkannya, tetapi saya kira arah yang diambilnya untuk kota ini memang dibutuhkan pada saat ini. Menolong kelompok bawah dan menengah yang selama ini diabaikan, dan juga warga yang tidak tinggal di Manhattan yang juga diabaikan,” ungkap Lund.

Chris Lund menilai naiknya kedudukan de Blassio dari jaksa penuntut umum menjadi walikota, mungkin hanya batu loncatan menuju ke Washington.

Lund menambahkan, “Saya menyimak pidato de Blassio dan saya nilai mirip pidato dan ada kemiripan dengan pidato pengukuhan Robert Kennedy. Ada kepedulian pada masyarakat Amerika yang lebih luas. Saya kira begitu warga kota di Amerika mendengar pidato itu, mereka akan bereaksi seperti warga New York saat ini”.

Bill de Blassio akan dilantik sebagai walikota ke 109 kota New York pada Tahun Baru 2014.
XS
SM
MD
LG