Tautan-tautan Akses

Dari Film Sampai Mode, Dubai Ingin Jadi Ibukota Kreatif Timur Tengah


Karya seni dari Richie Mirando alias Seen di galeri Pusat Keuangan Internasional Dubai, 25 November 2014. (Reuters/Caren Firouz)

Karya seni dari Richie Mirando alias Seen di galeri Pusat Keuangan Internasional Dubai, 25 November 2014. (Reuters/Caren Firouz)

Negara ini mengeluarkan ratusan juga dolar dan menggunakan teknologi terbaru untuk upaya menjadi salah satu pusat dunia Arab untuk seni, desain, film dan mode.

Lupakan Kairo, Beirut dan Kasablanka. Dubai sedang meluncurkan upaya untuk menjadi salah satu pusat dunia Arab untuk seni, desain, film dan mode -- wilayah-wilayah yang secara tradisional didominasi kota-kota Arab di luar daerah Teluk.

Keberhasilannya masih belum pasti. Emirat kaya raya ini lebih dikenal sebagai pusat perdagangan dan perbankan dan tujuan wisata mewah daripada sebagai pusat seni. Tempat ini kurang memiliki sejarah dan budaya berabad-abad seperti di kota-kota yang sudah mapan di Arab.

Namun Dubai memiliki keuntungan-keuntungan yang sulit diberikan kota-kota tua: keamanan, gaya hidup kosmopolitan dan jaringan transportasi komprehensif ke seluruh dunia Arab.

Negara ini mengeluarkan ratusan juga dolar dan menggunakan teknologi terbaru untuk upaya ini, menggunakan perusahaan-perusahaan negara untuk mengembangkan proyek ini dengan cara yang sama seperti saat membangun industri-industri lainnya yang berhasil.

"Kami ingin mendorong bakat-bakat lokal dan baru dari wilayah ini," ujar Amina Al Rustamani, CEO grup TECOM Investments, operator taman bisnis yang dimiliki penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum.

TECOM sedang membangun daerah seluas 200 hektar yang disebut Dubai Design District. Para penghuni tempat ini termasuk galeri, studio, bengkel, butik dan museum, serta kantor dan tempat tinggal. Fase pertama, yang akan dibuka tahun ini, akan memakan biaya 4 miliar dirham atau US$1,1 miliar. TECOM mengatakan lebih dari 220 perusahaan telah setuju ambil bagian dalam proyek ini.

Dewan Desain dan Mode Dubai, sebuah lembaga yang dibiayai pemerintah, berencana membangun sekolah desain dengan murid-murid dari seluruh dunia. Salah satu spesialisasi sekolah ini adalah desain Islamis.

Dewan ini akan bertindak sebagai inkubator bagi bisnis-bisnis desain baru, menyediakan dukungan teknis dan nasihat. Pada akhirnya, uang negara dapat ditanamkan ke beberapa bisnis ini, termasuk uang sektor swasta.

Untuk beberapa pihak, pendekatan dari atas ke bawah terhadap budaya ini terlihat mengekang atau steril. Namun para eksekutif tidak melihatnya sebagai kontradiksi; mereka beranggapan bahwa seperti juga emirat ini telah menarik para pedagang dan bankir dari wilayah ini dengan memberi mereka lingkungan yang kondusif untuk tumbuh, hal yang sama dapat dilakukan pada seniman, desainer dan pembuat film.

XS
SM
MD
LG