Tautan-tautan Akses

Dari Baghdad ke New York: Band Heavy Metal asal Irak


Acrassicauda berlatih di New York. Dari kiri ke kanan, vokalis Faisal Mustafa, penabuh drum Marwan Hussein, dan gitaris Mozart Al-Hamawandi.

Acrassicauda berlatih di New York. Dari kiri ke kanan, vokalis Faisal Mustafa, penabuh drum Marwan Hussein, dan gitaris Mozart Al-Hamawandi.

Bila orang membicarakan musik Timur Tengah, mungkin yang terbayang bukan musik cadas. Tetapi itulah musik yang dimainkan band asal Irak bernama Acrassicauda yang kiprahnya diangkat majalah Vice dan film dokumenter "Heavy Metal in Baghdad" (2007).

Nama band ini diambil dari nama Latin jenis kalajengking yang paling ditakuti di gurun Irak (singkatan nama ilmiah lengkap kalajengking hitam Androctonus crassicauda). Para anggotanya memang berasal dari Baghdad, Irak, meski kini tinggal di sekitar New York City, AS.

Kata sang pemain drum Marwan Hussein, “Karena kami terlahir di saat perang dan mengalami sendiri empat atau tiga perang, itulah yang membuat kami memilih heavy metal”

Ia menambahkan, musik ‘keras’ seperti inilah yang sangat sesuai dengan kehidupan keras yang mereka alami.

Dalam formasi aslinya, Acrassicauda dibentuk di Baghdad pada 2001, saat berkuasanya rezim Saddam Hussein. Karena sensor ketat yang berlaku saat itu, mereka harus membeli kaset heavy metal di pasar gelap, termasuk album dari band metal AS seperti Metallica dan Slayer. Begitu mereka siap 'manggung' pun, mereka diharuskan memasukkan puji-pujian terhadap rezim Saddam Hussein dalam syair-syair musik mereka. Dalam "Heavy Metal in Badghad" terungkap bahwa gerakan khas metal 'headbanging' (mengangguk-anggukkan kepala dengan keras) juga dilarang saat konser Acrassicauda, karena dianggap mirip dengan gerak kepala umat Yahudi ortodoks saat berdoa.

Bila era Saddam Hussein membawa pembatasan tersendiri bagi band metal ini, maka situasinya memburuk setelah tumbangnya rezim tersebut oleh koalisi pimpinan AS pada 2003. Kelompok-kelompok radikal yang muncul setelah penggulingan Saddam banyak mengidentikkan musik heavy metal dengan pemujaan setan. Setelah terus diancam, bahkan dibom studio rekamannya, para anggota band ini akhirnya hijrah ke Suriah pada 2006 sebelum akhirnya menetap di AS.

Vokalis utama Acrassicauda, Faisal Mustafa mengatakan, "Perang adalah perang. Tidak ada yang lucu mengenai perang. Tetapi sebagai musisi, Anda hanya mencoba untuk bertahan hidup dan memastikan keluarga dan kerabat Anda juga aman dan selamat."



Sejak hijrah ke AS, band metal ini telah berganti formasi beberapa kali. Salah satu anggota terbaru adalah gitaris Mozart Al-Hamawandi, yang baru berusia 23 tahun.

Kata Al-Hamawandi, "Saya mencoba membawa anggota band ke semangat positif. Saya membesarkan hati mereka, sambil sama-sama bermain musik".

Juli ini Acrassicauda meluncurkan album baru berjudul "Gilgamesh" mengambil nama raja kuno Mesopotamia (wilayah yang sekarang meliputi Irak) yang dikisahkan mencari air sumber kehidupan abadi. Album ini terwujud berkat upaya urun daya para fans lewat situs Kickstarter. Berkat para fans pula, para anggota Acrassicauda dulu bisa selamat dari ancaman di Irak. Dan kini pun, mereka tetap ingin membalas budi para fans lewat musik.

"Harapan kami adalah bahwa suatu saat Irak akan kembali aman sehingga kami bisa kembali ke sana", kata Marwan Hussein, "Kami ingin manggung di sana. Dan kami banyak teman di sana. Kami harus tetap yakin, tetap optimis dan semangat"

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG