Tautan-tautan Akses

AS

Dampak Setahun Kenaikan Upah Minimum di Ibukota AS


Demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum menjadi $15 dolar per jam.

Demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum menjadi $15 dolar per jam.

Meski lebih tinggi dari upah minimum federal, aktivis menilai angka ini sudah tidak lagi mengikuti laju inflasi dan kebutuhan hidup di ibukota AS ini.

Sudah setahun berlalu sejak Washington, D.C. menaikkan upah minimum dari $8,25 (sekitar Rp 110 ribu) ke $9,50 (Rp 126 ribu). Angka ini lebih tinggi dibandingkan upah minimum federal yang ditetapkan di kisaran $7,25 (Rp 97 ribu) per jam yang ditetapkan tahun 2009. Aktivis menilai angka ini sudah tidak lagi mengikuti laju inflasi dan biaya hidup yang relatif tinggi di AS.

Salah satu warga ibukota AS yang penghasilannya berada di standar minimum regional adalah Renee Patterson yang sepuluh tahun terakhir bekerja sebagai seorang asisten guru. Meski penghasilannya setahun ini naik akibat kenaikan UMR, ia tetap harus bergantung pada bantuan perumahan dari pemerintah dan harus berbelanja kebutuhan sehari-hari di toko-toko obral.

"Bila anggaran terbatas, Anda harus menepati anggaran tersebut, bila pun mendapat satu sen atau sepuluh sen lebih", kata Patterson.

Mengapa orang yang sudah berpenghasilan UMR masih harus sangat berhemat dan memohon bantuan pemerintah? Itulah yang membuat kalangan aktivis memperjuangkan upah minimum federal sebesar $15 (Rp 200 ribu) per jam. Salah satunya adalah Jeremiah Lowery, anggota kampanye "Fight for 15" yang baru-baru ini banyak berdemo untuk kenaikan upah para pekerja restoran siap saji.

Menurut Lowery, "Untuk bisa hidup di kota ini, dengan standar hidup yang layak, perumahan layak, Anda perlu berpenghasilan $15 sejam di DC"

Setiap Rabu, Lowery menyapa warga dan membagikan brosur "Fight for 15" dekat stasiun kereta bawah tanah, untuk memperjuangkan upah layak yang dinilai lebih relevan dibandingkan upah minimum.

"Kami berusaha menggalang dukungan kaum pekerja", kata Lowery, "Kami ingin para pekerja mendukung kampanye kami. Kami ingin mengundang mereka ke pertemuan kami, kumpul-kumpul di acara barbecue dan semacamnya, sehingga mereka bisa ikut berjuang dalam kampanye ini."



Gerakan "Fight for 15" telah dua tahun ini menggelar demo untuk menuntut kenaikan upah minimum federal yang memang belum dinaikkan selama enam tahun. Selain kenaikan upah, mereka juga menuntut cuti sakit bagi pekerja dan hak untuk berserikat.

Tidak semua pihak setuju dengan tuntutan-tuntutan ini. Kubu konservatif merujuk pada prinsip ekonomi yang bisa menjadi bumerang bagi para pekerja sendiri. Brian Williams dari lembaga riset berhaluan konservatif, National Center for Policy Analysis mencontohkan banyaknya kasir swalayan otomatis di supermarket dan toko obat di AS. Pelanggan bisa melakukan check out barang yang dibeli tanpa bantuan manusia dan cukup dengan mendekatkan kode batang (barcode) pada sensor mesin kasir swalayan.

"Bila pekerja menuntut gaji melebihi apa yang lazim diperoleh, dan seseorang lain menawarkan robot atau aplikasi elektronik yang bisa memberikan layanan yang sama, maka sang pemilik usaha pasti memilih yang terakhir dengan pertimbangan ekonomi", kata Williams. Dengan demikian pekerja tersebut bisa di-PHK dan diganti mesin.

Tetapi analis lain tidak sependapat, termasuk David Cooper dari lembaga riset berhaluan liberal, Economic Policy Institute. Cooper merujuk pada pengalaman Washington selama setahun kenaikan UMR.

"Begitu Anda menaikkan upah minimum, pekerja cenderung tidak pindah-pindah", kata Cooper, "Pekerja lebih betah. Dan ini berarti turunnya ongkos usaha bagi pemilik usaha karena tidak harus terus merekrut dan melatih pekerja baru. Produktivitas juga naik."

Sejauh ini, baru tiga kota telah menaikkan upah minimum ke $15 sejam, yakni Seattle di negara bagian Washington, serta Los Angeles dan San Francisco di California. Di Washington, D.C. dan New York City, proposal upah minimum $15 belum disetujui.

XS
SM
MD
LG