Tautan-tautan Akses

Daging “Meugang” di Aceh Capai Harga Tertinggi di Indonesia

  • Budi Nahaba

Harga daging di Aceh mencapai harga tertinggi. (VOA/Budi Nahaba)

Harga daging di Aceh mencapai harga tertinggi. (VOA/Budi Nahaba)

Beberapa warga di Aceh mengaku harga daging untuk kebutuhan lebaran mencapai harga tertinggi, dari harga yang ditetapkan pemerintah Rp 76 ribu. Daging meugang (baca: megang) di Aceh berkisar Rp 120 ribu hingga Rp 200 ribu per kilo gram.

Pemuka umat muslim mengatakan, tradisi warga makan dan memasak daging “meugang” (bahasa Aceh) telah dilakukan sejak masa kesultanan Aceh abad ke empat belas, dan tradisi itu kini masih dilakukan turun temurun.

Warga kota Takengon Ikas Cempala Gayo (47) mengatakan Sabtu (26/7), di wilayahnya walau harga melambung tinggi keperluan membeli dan memasak daging meugang sama dengan wilayah lain di Aceh, merupakan tradisi lebaran.

Pantauan VOA, pasokan daging di Aceh terutama dari peternakan sapi dan kerbau lokal dinilai warga merupakan daging dengan kualitas terbaik.

Beberapa warga mengaku Harga daging di Bireuen, Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah dan sejumlah kabupaten kota lain berpotensi naik jika permintaan terus meningkat sampai H-1 lebaran.

Suheri warga Banda Aceh mengaku sejak Jum’at (25/7), harga daging meugang di beberapa pasar daging mencapai Rp 130 ribu hingga Rp 140 ribu, terutama pada pagi hari.

Sebelumnya, kalangan peneliti sejarah mengatakan, “Meugang “ merupakan tradisi warga Aceh memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kaum dhuafa dan yatim piatu. Tradisi Meugang atau Makmeugang merupakan kegiatan menyembelih ternak, kambing, sapi dan kerbau, dilaksanakan setahun tiga kali, yakni awal puasa Ramadhan, lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Selain kambing kerbau dan sapi, masyarakat Aceh juga menyembelih ayam dan bebek. Tradisi Meugang di pedesaan biasanya berlangsung beberapa hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hingga tiga hari sebelum Ramdhan atau hari raya.

Salah seorang Koordinator Pemuda Peduli Kota Madani Banda Aceh Reza Munawier mengatakan, menyantap daging meugang lebih kepada rasa bersyukur dan berkumpulnya seluruh anggota keluarga sehari sebelum lebaran.

Meugang memiliki nilai religius karena dilakukan di hari-hari suci umat Islam. Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang.

Beberapa praktisi bisnis mengatakan, konsumsi daging untuk hari-hari besar di Aceh mencapai lebih 10 ribu ton perhari. Praktisi meminta pemerintah setempat lebih mampu menstabilkan harga, menghambat praktik spekulan harga yang mengeruk keuntungan semata dari kebutuhan masyarakat dan peternak di Aceh selama musim lebaran.

Sumber dinas terkait sejumlah provinsi menyebut harga daging sapi berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per kilo gram. Sebelumnya, pihak Kementerian Perdagangan RI menyatakan, pemerintah menetapkan Harga referensi (patokan) daging sapi sebesar Rp 76.000 per kilo gram.

Biasanya Warga Aceh memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke mesjid untuk dimakan bersama, berbagi dengan tetangga, kaum dhuafa yatim piatu dan warga yang lain.

Siti Maimunah (27) ibu rumah tangga mengaku, baru membeli dalam jumlah besar dan memasak daging sehari sebelum lebaran.

Perantau asal kota Bandung Vera Veronika (25) mengaku tahun ini ia dan beberapa teman berlebaran di Aceh, jauh dari kampung halaman. Namun tradisi meugang di Aceh, tambah Vera, memasak dan menikmati sajian daging lebaran seperti yang dilakukan masyarakat Aceh cukup menyenangkan.

Pemerintah Aceh bekerjasama dengan kalangan pebisnis peternakan global asal Australia tahun lalu telah merintis pembangunan sentra peternakan modern dengan areal ratusan hektar di kabupaten Aceh Besar.

Diharapkan dari sentra peternakan itu, pasokan kebutuhan konsumen daging di beberapa provinsi di Sumatera dapat terpenuhi, termasuk mendorong produktifitas peternak lokal untuk penyediaan daging ekspor ke sejumlah negara Asia dan Timur Tengah.

XS
SM
MD
LG