Tautan-tautan Akses

Mantan Menhan AS Colin Powell Dukung Kesepakatan Nuklir Iran


Mantan Menteri Pertahanan AS, Colin Powell mendukung kesepakatan nuklir Iran (foto: dok).

Mantan Menteri Pertahanan AS, Colin Powell mendukung kesepakatan nuklir Iran (foto: dok).

Mantan Menteri Pertahanan AS, Colin Powell dan Ketua Komisi Nasional Partai Demokrat, Debbie Wasserman Schultz mengumumkan dukungan mereka atas persetujuan nuklir Iran hari Minggu (6/9).

Persetujuan nuklir Iran yang hampir dapat dipastikan memperoleh persetujuan Kongres AS, mendapat tanggapan lebih kuat lagi hari Minggu (6/9), ketika mantan Menteri Pertahanan Colin Powell dan Ketua Komisi Nasional Partai Demokrat, Debbie Wasserman Schultz mengumumkan dukungan mereka.

Colin Powell, Menteri LN semasa pemerintahan Presiden George W. Bush, menyebut perjanjian nuklir itu “perjanjian yang cukup baik", yang dapat mengurangi ancaman Iran dapat membuat senjata nuklir.

Program nuklir Iran “telah dibelokkan'' membuat kemungkkinan kecil Iran dapat membuat senjata nuklir yang bisa digunakan terhadap Israel atau negara-negara lain, kata Powell. “Jadi itu cukup baik'', katanya kepada saluran TV NBC dalam acara “Meet the Press.”

Kepala Komite Nasional Demokrat, Debbie Wasserman Schultz dari Partai Demokrat mewakili negarabagian Florida mengatakan, keputusan menyokong persetujuan itu adalah yang paling sulit dia lakukan sejak ia terpilih hampir 23 tahun sebagai anggota DPR Amerika. Debbie Schultz yang beragama Yahudi menulis di harian The Miami Herald, meskipun ada yang dikhawatirkannya mengenai perjanjian itu, namun perjanjian itu merupakan peluang terbaik bagi keamanan Amerika, Israel dan sekutu lainnya.

“Di bawah perjanjian itu, Iran tidak akan mampu memproduksi bom nuklir paling sedikit dalam kurun waktu 10 sampai15 tahun,'' katanya, sementara Amerika dan sekutu-sekutunya “akan lebih memusatkan pada menghentikan kegiatan teroris Iran”.

Gedung Putih berhasil mengantongi jumlah suara yang cukup di Senat bahwa Kongres akan menyetujui perjanjian itu, bahkan jika Presiden Barack Obama harus memveto resolusi yang menolaknya. pemungutan suara bagi resolusi tersebut dijadwalkan diadakan minggu depan.

Tetapi, dengan dukungan yang sudah ada dan yang masih datang, Gedung Putih dan para pendukung di Kongres mulai mengincar sasaran yang lebih ambisius: adanya tekad untuk menjegal resolusi untuk menolaknya di Senat, dengan cara mengulur waktu, sehingga mencegahnya mencapai tahap pemungutan suara akhir.

Upaya itu mengalami kemunduran Jumat (4/9), ketika Senator Demokrat dari Maryland, Ben Cardin, dari Komite Hubungan LN Senat mengatakan, ia menentang perjanjian itu. Sebanyak 38 senator mendukung, tiga abstain dan 41 lainnya mengulur waktu menyetujui resolusi itu dan membendungnya agar tidak lolos.

Powell, yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional di bawah pemerintahan Presiden Ronald Reagan, menggunakan ucapan yang sering diucapkan Reagan bahwa Barat harus "percaya tetapi Periksa” persetujuan apapun dengan bekas Uni Soviet. “Dengan Iran, jangan percaya tetapi harus diperiksa,” kata Powell.

XS
SM
MD
LG