Tautan-tautan Akses

Clinton: Pemberdayaan Perempuan Landasan Kebijakan Luar Negeri AS


Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton

Menurut Menlu Clinton, kesetaraan gender bukan hanya masalah moral, kemanusiaan, atau keadilan, tetapi juga masalah keamanan.

“Amerika telah menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai landasan kebijakan luar negeri kita,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton, "karena kesetaraan perempuan bukan hanya masalah moral, kemanusiaan, atau keadilan, tetapi juga masalah keamanan ".

Jika perempuan diperbolehkan memiliki pekerjaan, mereka mendorong pertumbuhan ekonomi di semua sektor. Jika seorang anak perempuan pergi ke sekolah, meskipun hanya setahun, pendapatannya akan naik secara drastis seumur hidupnya, dan anak-anaknya lebih besar kemungkinnya untuk bertahan hidup dan lebih sehat.

Jika perempuan memiliki hak yang sama, negara-negara lebih stabil dan aman. Jadi, tidak memberdayakan perempuan adalah ancaman bagi keamanan umum di dunia. Itu sebabnya Amerika berupaya meningkatkan diplomasi dan pembangunan supaya setara dengan pertahanan.

Menlu Clinton saat mengunjungi pusat penampungan yang disponsori pemerintah AS, bagi para perempuan korban perdagangan manusia di Siem Reap, Kamboja, 31 Oktober 2010.

Menlu Clinton saat mengunjungi pusat penampungan yang disponsori pemerintah AS, bagi para perempuan korban perdagangan manusia di Siem Reap, Kamboja, 31 Oktober 2010.

Untuk mencapai tujuan itu, Departemen Luar Negeri Amerika menciptakan kemitraan dengan pemerintah, organisasi-organisasi non-pemerintah, dan perusahaan-perusahaan swasta untuk meningkatkan status perempuan di mana mereka tinggal. Amerika telah membentuk aliansi dengan Inggris, Australia, dan Yayasan Bill dan Melinda Gates untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Di Republik Demokratik Kongo, di mana kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan seksual masih merajalela, Amerika sedang mengembangkan inisiatif keadilan untuk membantu perempuan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan terhadap mereka, merekam dan mengirimkan kesaksian mereka, dan membantu menggeret para pelaku kejahatan itu ke pengadilan.

Sikap banyak masyarakat yang kurang menghargai perempuan menyebabkan banyak perempuan yang mengalami pelecehan terburuk.

Seringkali perempuanlah yang pertama kali putus sekolah, yang terakhir diberi makan, dan yang terakhir menerima perawatan medis. "Jadi, kita perlu membujuk keluarga dan negara," kata Menlu Clinton, "untuk menghargai perempuan dan untuk mengajarkan mereka agar memahami nilai dan potensi perempuan." Jika masyarakat mau berinvestasi pada perempuan, kemiskinan akan berkurang, pembangunan akan lebih besar, dan stabilitas meningkat. Ada lebih dari 600 juta perempuan di negara berkembang saja. Jelas taruhannya besar.

Itu sebabnya Amerika berkomitmen untuk memajukan status perempuan di seluruh dunia. "Tidak ada batas untuk apa yang bisa kita lakukan bersama atas nama perempuan," kata Menlu Clinton. Setiap perempuan di dunia berhak memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpi dan aspirasi mereka.

XS
SM
MD
LG