Tautan-tautan Akses

Clinton dan Pejabat Tiongkok Bahas Upaya Akhiri Konflik Suriah


Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton, kiri, bersama Menteri Luar Negeri Tiongkok Yang Jiechi. Clinton berada di Tiongkok untuk membahas penyelesaian konflik di Suriah (foto, 4/9/2012).ijing, Tuesday, Sept. 4, 2012. Clinton is in Beijing to press Ch

Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton, kiri, bersama Menteri Luar Negeri Tiongkok Yang Jiechi. Clinton berada di Tiongkok untuk membahas penyelesaian konflik di Suriah (foto, 4/9/2012).ijing, Tuesday, Sept. 4, 2012. Clinton is in Beijing to press Ch

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton hari Rabu bertemu para pejabat Tiongkok membahas perbedaaan mengenai cara mengakhiri konflik di Suriah.

Menteri Clinton mengatakan Amerika dan Tiongkok bersama-sama ingin melihat diakhirinya kekerasan dan dimulainya peralihan politik di Suriah. Masalahnya adalah bagaimana melakukannya.

“Bukan rahasia, kami kecewa dengan tindakan Rusia dan Tiongkok yang menghalangi resolusi Dewan Keamanan PBB yang lebih keras. Kami berharap bisa terus bersatu padu untuk mengakhiri kekerasan di Suriah,” ujar Clinton.

Ia membahas konflik Suriah itu dengan Presiden Tiongkok Hu Jintao dan Menteri Luar Negeri Yang Jeichi. Menteri Luar Negeri Yang mengatakan Tiongkok yakin, pemecahan atas konflik itu harus datang dari rakyat Suriah sendiri.

Ia menambahkan, perubahan politik di Suriah tidak bisa dipaksakan dari luar. Ia mengatakan semua negara harus menjunjung tujuan dan prinsip piagam PBB, khususnya tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain. Ia mengatakan Tiongkok tidak bersikap berat sebelah terhadap individu atau pihak tertentu di Suriah.

Sikap itu berbeda jelas dengan sekutu Tiongkok, Rusia, yang memasok senjata kepada Presiden Assad, dan dengan Amerika, yang mendukung lawan-lawan Presiden Assad.

Clinton mengatakan tindakan terbaik adalah tetap meyakinkan Tiongkok dan Rusia untuk bergabung dengan anggota-anggota Dewan Keamanan lain mendukung apa yang disebutnya “konsekuensi nyata” bagi Presiden Assad apabila ia terus menyerang rakyatnya sendiri. Setelah itu, katanya, Amerika dan negara-negara lain yang disebut “Teman-teman Suriah” akan mendukung lawan-lawan Presiden Assad.

“Amerika akan terus bekerja sama dengan kelompok negara yang berpikiran sama untuk mendukung oposisi Suriah dan merencanakan hari pembebasan itu setelah Assad turun karena kami yakin ia akan turun dari kekuasaan,” ujar Clinton lagi.

Menteri Luar Negeri Yang mengatakan mendukung salh satu pihak di Suriah berisiko memicu konflik regional yang lebih besar.

Ia mengatakan sejarah akan menilai bahwa posisi Tiongkok dalam konsflik Suriah” mendukung “penanganan dan pemecahan yang tepat” isu itu karena yang menjadi pemikiran Tiongkok adalah kepentingan rakyat Suriah dan perdamaian serta stabilitas kawasan itu.

Menteri Clinton mengatakan, perdamaian dan stabilitas di kawasan terancam oleh mereka yang membiarkan kekerasan itu berlarut-larut.

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko konflik itu akan merebak ke luar perbatasan dan mengacaukan negara-negara tetangganya. Kami sudah melihat bentrokan-bentrokan berbahaya di Lebanon dan ketegangan yang meningkat di Turki dan Yordania,” tambahnya.

Dalam perundingan di Tiongkok, Clinton dan Yang juga membahas upaya bersama untuk membatasi kegiatan nuklir Korea Utara dan Iran serta menyelesaikan perbedaan antara Sudan dan Sudan Selatan.

Clinton mengatakan, “Mengenai beberapa isu ini, Tiongkok dan Amerika punya banyak kesamaan dan kami bekerjasama erat berupaya mencapai tujuan bersama. Dalam isu-isu lain, seperti HAM, kami tidak selalu sepaham, tetapi kami terus membicarakannya bersama.”

Ia mengatakan Tiongkok dan Amerika tidak akan selalu sepakat dalam semua isu, Tidak ada negara yang seperti itu. Tetapi, katanya, Tiongkok dan Amerika belajar mengatasi perbedaaan mereka dan akan menghadapi hal itu secara terbuka apabila terjadi.
XS
SM
MD
LG