Tautan-tautan Akses

China Tingkatkan Keamanan di Beijing Pasca Serangan KA di Kunming

  • William Ide

Polisi bersenjata berjaga-jaga di depan stasiun KA Kunming, Minggu (2/3). Meningkatnya penjagaan juga menyebar ke ibukota, Beijing.

Polisi bersenjata berjaga-jaga di depan stasiun KA Kunming, Minggu (2/3). Meningkatnya penjagaan juga menyebar ke ibukota, Beijing.

Meningkatnya penjagaan meluas ke ibukota, setelah serangan di sebuah stasiun kereta api di Barat Daya China yang menewaskan lebih dari 30 orang.

Pihak berwenang China mengatakan, kaum separatis dari desa terpencil di wilayah Xinjiang bertanggung jawab atas apa yang oleh pejabat disebut sebagai serangan teroris yang terorganisir.

Setelah terjadi serangan penikaman brutal di stasiun kereta api Kunming, media China melaporkan pejabat di Beijing mengadakan pertemuan darurat untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di ibukota.

Langkah-langkah yang diambil, antara lain, meningkatkan kesadaran anti-terorisme dan anti-bahan peledak di kota. Pejabat juga menyerukan untuk menambah pengamanan pada angkutan umum seperti bis-bis dan jaringan sistem kereta bawah tanah yang luas.

Mengutip Kementerian Keamanan Umum, Selasa, kantor berita resmi Xinhua melaporkan, pihak berwenang telah menangkap tiga tersangka penyerang. Polisi mengatakan, mereka menembak mati empat orang dan menahan seorang penyerang di tempat kejadian.

Keamanan dalam negeri akan menjadi isu penting ketika pejabat-pejabat China bertemu pekan ini di Beijing. Meskipun belanja militer China berkembang cepat, negara itu masih membelanjakan lebih banyak untuk keamanan dalam negeri dibandingkan untuk pertahanan.

Sejak 2009, anggaran keamanan China di Xinjiang sendiri bertambah dari 250.000 dolar menjadi satu miliar dolar.

Setelah serangan, banyak yang menuntut agar penumpasan dilancarkan. Ada pula pihak-pihak yang menuntut agar UU anti-teror diperkuat guna memberdayakan pemerintah agar lebih mempu menanggapi.

James Leibold adalah dosen tamu di Studi Luar Negeri Beijing Foreign Studies University. Ia mengatakan serangan itu tidak diduga oleh pemerintah dan meningkatkan keprihatinan bahwa insiden semacam itu bisa memicu ketegangan etnis.

"Saya berpendapat mereka khususnya khawatir ada balasan dari warga Han," ujarnya. "Banyak orang mengatakan ini mirip dengan 2009. Ketika mereka terjadi kerusuhan warga Han di Shaoguang, di Guangdong dan merambat ke Urumqi serta menjadi kekerasan di jalan. Pemerintah khawatir dan tidak mau membiarkan hal itu menjadi tidak terkendali."

Pada 2009, Xinjiang diguncang oleh kerusuhan etnis yang menewaskan 200 orang, baik orang Tionghoa Han maupun anggota kelompok minoritas Muslim Uighur Xinjiang.

Pada akhir Desember, Leibold mencatat, President China Xi Jinping menekankan pandangannya bagi sebuah strategi baru di Xinjiang. Sementara rincian strategi itu masih disusun, jelas bahwa Xi bertujuan meningkatkan kendalinya atas kawasan itu.
XS
SM
MD
LG