Tautan-tautan Akses

China Tetapkan Target Ambisius Kurangi Polusi Udara


Seorang warga melintasi jalanan Beijing yang penuh asap polusi (foto: dok). Pemerintah China menerapkan target ambisius untuk menciptakan udara bersih di wilayah perkotaan.

Seorang warga melintasi jalanan Beijing yang penuh asap polusi (foto: dok). Pemerintah China menerapkan target ambisius untuk menciptakan udara bersih di wilayah perkotaan.

China menetapkan target ambisius untuk menciptakan udara bersih dan memerintahkan kota-kota untuk mengurangi emisi gas beracun hingga 25 persen dalam tiga tahun ke depan.

Setelah setahun mencatat rekor polusi tertinggi yang mengakibatkan Beijing memperoleh reputasi buruk di kalangan masyarakat internasional dan kecaman di dalam negeri, China kini menetapkan target yang ambisius untuk menciptakan udara bersih dan memerintahkan kota-kota untuk mengurangi emisi gas toksik hingga 25 persen dalam tiga tahun ke depan.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal terbaru dari tekad Beijing untuk memberlakukan standar lingkungan yang lebih ketat terhadap provinsi-provinsi, yang sejauh ini lebih banyak ditekankan pada kinerja kemajuan ekonominya.

Sasaran itu meliputi pengurangan dua jenis partikel beracun, PM 2.5 dan PM 10, yang merupakan pencemar utama di udara.

Menurut Departemen Perlindungan Lingkungan, yang mengumumkan sasaran itu Selasa pekan lalu, pengurangan emisi akan bervariasi antara satu wilayah dan lainnya berdasarkan pertimbangan catatan tingkat polusi dan kebutuhan ekonomi di daerah itu.

Daerah-daerah yang relatif lebih tercemar dan maju seperti Beijing, Tianjin dan provinsi sekitar Hebei dikenakan sasaran pengurangan yang tinggi, dan akan mengurangi konsentrasi PM 2.5 sebesar 25 persen menjelang tahun 2017.
Daerah lain, seperti Mongolia, harus mengurangi partikel PM 2.5 hanya sebesar 10 persen.

Analis di China menyambut baik langkah tersebut, yang mereka katakan menunjukkan tekad pemerintah pusat untuk mengatasi salah satu masalah kesehatan terbesar penduduk perkotaan di China. Namun ada juga yang khawatir dengan kepatuhan kota-kota itu pada peraturan tersebut.

Ma Yongliang, profesor lingkungan di Universitas Tsinghua, mengatakan sasarannya akan sulit dicapai karena China masih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi di kebanyakan daerah yang tertinggal.

Batubara, sumber energi terbesar China, adalah salah satu penyebab terbesar polusi udara.

Pemerintah berusaha melakukan diversifikasi energi dan membatasi produksi batubara di masa depan. Tapi biaya dan kelangkaan sumber daya bersih seperti gas alam, energi matahari dan angin telah membuat batubara menjadi pilihan yang paling cocok untuk pembangunan yang cepat dan murah.

Bulan Desember, Organisasi Sentral – badan partai yang kuat dan bertanggung jawab atas pengembangan kader partai – mengeluarkan instruksi yang secara langsung menyatakan bahwa tinjauan rutin terhadap pemerintah daerah tidak akan didasarkan pada pertumbuhan PDB saja.

Meskipun dokumen itu tidak memuat target lingkungan yang hendak dicapai, departemen lain – seperti Kementerian Perlindungan Lingkungan – meningkatkan perhatian pada usaha penanggulangan dampak buruk dari industrialisasi.

Polusi udara di China, yang menurut studi Organisasi Kesehatan Sedunia – WHO bertanggung jawab atas hampir 500 ribu kematian terlampau dini setiap tahun, merupakan salah satu akibat buruk dari lonjakan PDB China yang terlalu besar dan terlalu cepat.
XS
SM
MD
LG