Tautan-tautan Akses

China Tangguhkan Sistem Baru, Pasar Saham Dunia Anjlok


Seorang investor memperhatikan layar yang menunjukkan informasi saham, setelah mekanisme "circuit breaker" menangguhkan perdagangan saham, di Shanghai, China, 7 Januari 2016.

Seorang investor memperhatikan layar yang menunjukkan informasi saham, setelah mekanisme "circuit breaker" menangguhkan perdagangan saham, di Shanghai, China, 7 Januari 2016.

China Securities Regulatory Commission hari Kamis (7/1) menangguhkan sistem "circuit breaker", empat hari setelah diperkenalkan kepada publik. Sistem "circuit breaker" adalah sistem baru yang dibuat otorita berwenang di China yang sedianya untuk menstabilkan pasar. Tetapi sistem ini justru sudah dua kali menangguhkan perdagangan di lantai bursa pekan ini dan dikecam karena justru semakin membuat pasar menjadi rentan, bukan stabil.

Hari Kamis perdagangan indeks ekuitas nasional dihentikan hanya 30 menit setelah pembukaan pasar, menimbulkan dampak pada seluruh pasar keuangan dunia. Pasar-pasar saham di Amerika misalnya terjun bebas lebih dari 2% setelah dibuka Kamis pagi, demikian pula beberapa pasar saham di Eropa yang bahkan anjlok hingga 2,3%.

Anjloknya harga saham di pasar keuangan dunia sejak Senin lalu terus berlanjut pada hari Kamis, di mana Indeks Dow Jones terkoreksi negatif hingga lebih dari 150 point setelah otorita China kembali memangkas nilai mata uang yuan, yang terbesar sejak Agustus 2015 lalu. Pemangkasan yuan ini sebenarnya tidak terlalu menimbulkan dampak dibanding terus turunnya harga minyak dunia dan kebijakan baru "circuit breaker" yang telah menimbulkan gejolak luar biasa pada pasar-pasar keuangan dunia.

Dow Jones terjun bebas hampir 200 point atau hampir 2%, sementara harga minyak anjlok drastis 5,5%. Penurunan nilai mata uang yuan dan gejolak di lantai bursa telah membuat sejumlah saham untuk kedua kalinya dalam pekan ini turun tajam hingga 7%. Perolehan keuntungan merosot, sementara yen mencapai nilai tertinggi dalam empat bulan, demikian pula harga emas.

Keprihatinan baru yang muncul adalah perlambatan ekonomi China akan mengganggu pertumbuhan ekonomi global, yang juga telah menghapus nilai ekuitas global hingga 2,5 trilyun dolar tahun ini. Harga minyak yang turun hingga 30 dolar per barel juga memicu kekhawatiran terjadinya disinflasi dan menimbulkan keprihatinan bahwa produsen energi tidak lagi bisa tetap solven.

Apakah pasar sedang bergulat dengan krisis ekonomi seburuk sebagaimana yang terjadi tahun 2008? Mungkin terlalu dini untuk mengatakan hal ini karena kita baru saja memasuki tahun 2016. Tetapi sejauh ini pasar kelihatan tidak terlalu menarik. Hantaman yang tidak henti-hentinya terhadap pasar keuangan dunia setidaknya membuat Wall Street gugup juga.

Di Sri Lanka, bilyuner George Soros hari Kamis (7/1) mengatakan kepada suratkabar "Sunday Times" bahwa pasar "sedang menghadapi krisis dan investor harus sangat hati-hati." Ditambahkannya "China sedang berjuang untuk menemukan model pertumbuhan baru dan devaluasi mata uangnya menimbulkan dampak ke seluruh dunia."

Soros melihat hubungan antara anjloknya pasar pada awal tahun ini dengan krisis keuangan tahun 2008 yang dipicu oleh pengambilan resiko secara berlebihan terkait sekuritas yang didukung kredit perumahan yang rumit. [em/al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG