Tautan-tautan Akses

China Rangkul Korut untuk Tandingi Pengaruh AS di Asia

  • Brian Padden

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) berbicara dengan pejabat senior Partai Komunis China, Liu Yunshan di Pyongyang dalam peringatan Hari Jadi Korut ke-70, 1 Oktober lalu (foto: dok).

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) berbicara dengan pejabat senior Partai Komunis China, Liu Yunshan di Pyongyang dalam peringatan Hari Jadi Korut ke-70, 1 Oktober lalu (foto: dok).

Hubungan China dan Korea Utara yang meningkat, bisa jadi adalah suatu pergeseran di bawah Presiden Xi Jinping untuk mengalihkan rezim Kim Jong Un dari rezim yang berpotensi mengacau menjadi kekuatan strategis guna menandingi kekuatan AS di Asia.

Pakar China di Universitas Korea di Seoul, Profesor Suh Jin-young mengemukakan, di bawah pimpinan Presiden Xi Jinping China ingin mendudukkan diri sebagai ‘negara besar’ setara dengan Amerika.

Persaingan yang semakin meningkat antara Beijing dan Washington dalam merebut kekuasaan dan pengaruh di kawasan Asia, menurut Suh, juga siasat inti China dalam menggapai Korea Utara akhir-akhir ini.

Dalam proses berurusan dengan Amerika, menurut Suh, Presiden Xi mengkaji-ulang makna strategis Korea Utara. Jadi China berusaha keras memulihkan hubungan dengan Korea Utara.

Beijing masih bersepakat dengan Washington dan Seoul bahwa program nuklir Pyongyang harus dilenyapkan. Tetapi China tidak dapat menerima tujuan jangka panjang Washington dan Seoul untuk mengubah semenanjung Korea yang terpecah dua menjadi satu Korea yang demokratis dan pro Amerika di perbatasannya.

Beijing juga meragukan kebijakan Washington yang mengucilkan Korut secara diplomatik dan mengenakan sanksi -- dalam mendesak Pyongyang untuk menghentikan program nuklirnya dan kembali ke perundingan enam pihak -- bakal berhasil.

Di bawah Perjanjian Bersama Enam Pihak Tahun 2005 dengan Amerika, China, Russia dan Jepang – Korea Utara bersedia membongkar program nuklirnya sebagai imbalan mendapat bantuan ekonomi, jaminan keamanan serta hubungan diplomatik yang lebih baik.

Korea Utara akhirnya meninggalkan perjanjian itu dan melakukan tiga ujicoba nuklir menyebabkan PBB menjatuhkan sanksi dan hubungannya dengan China menjadi tegang.

Presiden Xi belakangan ini memperbaiki hubungan itu dengan mengirim delegasi tingkat tinggi ke perayaan ulangtahun berdirinya partai pendiri Korea Utara. Juga ada laporan tentang meningkatnya perkembangan ekonomi di kawasan perbatasan antara kedua negara.

Pejabat-pejabat di Seoul mengatakan, sejak itu sikap Pyongyang mengekang diri yang lain dari biasa bekerjasama dengan Seoul mempertemukan keluarga yang terpisah dan tidak memenuhi ancamannya hendak meluncurkan roket jarak jauh atau melakukan ujicoba nuklir yang ke-empat, sebagian adalah akibat pengaruh Beijing.

Dalam jangka pendek, kata Profesor Suh, Beijing menggunakan pengaruhnya dalam cara yang membangun memisah Seoul dari posisi Washington bahwa Pyongyang mesti menghentikan program nuklirnya sebelum pembicaraan baru dapat dimulai.

"Bebas nuklir adalah tujuan yang dapat dicapai pada akhir suatu proses yang panjang, dan adalah tidak lazim bagi Korea Utara menjadi yang pertama memaklumkan tujuan tersebut," ujar Suh.

Tujuan jangka panjang China, katanya, ialah mencoba menstabilkan Korea Utara sebagai penyangga terhadap Korea Selatan sekutu Amerika. [al]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG