Tautan-tautan Akses

China Perketat Aturan Iklan Rokok


Seorang pria tengah merokok sambil berjalan melintasi sebuah restoran di Beijing (Foto: dok).

Seorang pria tengah merokok sambil berjalan melintasi sebuah restoran di Beijing (Foto: dok).

China menggelar sweeping peraturan baru pada hari Selasa (1/9) untuk membatasi iklan tembakau, sebagai langkah terbaru untuk mengendalikan kebiasaan luas yang telah menyebabkan krisis kesehatan terbesar di negara itu.

Lebih dari 300 juta orang telah menjadikan rokok bagian gaya hidup mereka di negara yang merupakan produsen dan konsumen tembakau terbesar di dunia, dan 740 juta warga lainnya terpapar asap sebagai perokok pasif, demikian laporan media pemerintah setempat.

Revisi UU iklan nasional, diloloskan pada bulan April, melarang iklan rokok di media massa, tempat umum, di kendaraan umum dan di luar rumah.

Pendukung anti-rokok memuji perubahan-perubahan tersebut, tetapi memperingatkan bahwa beberapa bagian dari hukum bisa disalahgunakan oleh monopoli tembakau yang kuat di negara itu, yang mereka katakan telah membalas serangkaian langkah-langkah anti-merokok yang ambisius tersebut.

"Mereka tidak bisa menghentikannya, tapi mereka bisa menimbulkan masalah," kata Bernhard Schwartlander, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di China, mengacu pada kampanye anti-merokok di negara itu.

"Masalahnya adalah pemilihan bahasa yang digunakan, penafsiran dari kata-kata itu seringkali membuka ruang untuk diskusi (tentang masalah itu) yang akan dimanfaatkan oleh industri tembakau," tambahnya.

Negosiasi untuk mengurangi pembatasan

Pejabat Monopoli Tembakau China yang sangat kuat, hingga Februari dipimpin oleh adik laki-laki PM Li Keqiang, telah melakukan lobi secara intensif untuk pengurangan pembatasan iklan, ungkap sebuah sumber kepada Reuters tahun lalu.

Monopoli tembakau negara yang mengontrol sebagian besar pasar domestik, memiliki kekuasaan yang luar biasa karena menyumbang sekitar tujuh persen hingga 10 persen pendapatan pemerintah, atau sebanyak 816 milyar yuan ($ 127 milyar) pada tahun 2013.

Tapi banyak kota-kota besar, termasuk Beijing, telah memiliki pembatasan keras terhadap rokok dibandingkan dengan daerah pedesaan, dan billboard yang mempromosikan rokok sudah jarang terlihat di ibukota.

Aturan periklanan yang baru juga menyebutkan hukuman yang lebih keras untuk iklan yang menyesatkan, melarang iklan di sekolah atau pada materi pendidikan, dan melarang penggunaan anak berusia di bawah 10 tahun untuk mengiklankan produk tersebut.

Para pejabat kesehatan dan pegiat anti-merokok mengatakan perubahan terutama ditargetkan kepada para perokok di kalangan anak muda.

Dalam sebuah wawancara, Liang Xiaofeng, wakil direktur Pusat China untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, mengatakan ia berharap pemerintah meningkatkan pajak tembakau lebih tinggi karena perokok remaja lebih sensitif terhadap harga.

"Kami percaya bahwa kenaikan harga akan berdampak pada sebagian besar anak-anak karena mereka tidak memiliki penghasilan sendiri," tambahnya.

XS
SM
MD
LG