Tautan-tautan Akses

China Hadapi Ancaman Serangan Meluas


Latihan anti-terorisme militer China di sebuah stasiun kereta api di Zhengzhou, China (7/5).

Latihan anti-terorisme militer China di sebuah stasiun kereta api di Zhengzhou, China (7/5).

Masalah keamanan yang meningkat membuat publik semakin khawatir meski pemerintah berjanji melakukan tindakan keras terhadap terorism.

Dalam dua bulan lebih sedikit, China telah menghadapi tiga serangan kekerasan di stasiun-stasiun kereta api besar. Pihak berwenang mengatakan teroris ekstremie melakukan setidaknya dua dari serangan-serangan tersebut, di tengah ancaman keamanan meluas yang telah meningkatkan keprihatinan publik. Kekerasan itu terjadi saat pemerintah berjanji untuk melakukan tindakan keras terhadap terorisme.

Puluhan melarikan diri dan enam terluka ketika penyerang bersenjata pisau beraksi di stasiun kereta api utama Guangzhou awal minggu ini. Pihak berwenang mengatakan mereka menembak tersangka setelah ia menolak menanggapi tembakan peringatan, dan kelihatannya dia bertindak seorang diri.

Sejauh ini, tidak ada kaitan antara insiden minggu ini dan serangan lain di Kunming pada awal Maret serta satu lagi di ibukota provinsi Xinjiang minggu lalu.

Pihak berwenang mengatakan ekstremis agama melakukan serangan-serangan di Kunming dan Urumqi, dan bahwa para tersangka adalah para anggkota kelompok minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

Serangan minggu lalu di Urumqi terjadi tak lama setelah Presiden China Xi Jinping mengunjungi Xinjiang dan berjanji untuk mengambil tindakan tegas melawan para teroris. Serangan bom dan pisau maut itu menewaskan tiga orang dan melukai hampir 80 orang.

Tantangan pemerintah

Han Lianchao, seorang peneliti tamu di Hudson Institute di Washington DC, mengatakan karena serangan yang terjadi di Urumqi tak lama setelah kunjungan Presiden ke Xinjiang, hal itu menunjukkan tantangan signifikan bagi pemerintah. Ia mengatakan bahwa klaim-klaim Xi bahwa ia tidak akan ragu menggunakan tangan besi dalam menghadapi teroris tidak begitu beperngaruh dalam menghentikan serangan. Hao menambahkan bahwa nilai simblois serangan itu jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik.

Sebuah makalah baru mengenai kebijakan keamanan nasional, yang diluncurkan minggu ini, mengatakan China dihantam 10 serangan teroris tahun lalu saja. Meski sebagian besar terjadi di Xinjiang, daftar itu juga termasuk serangan di Alun-alun Tiananmen di Beijing. Setelah serangan di Guangzhou minggu ini, pihak berwenang melakukan patroli di stasiun-stasiun kereta api di Shanghai dan Beijing. Para analis mengatakan ancaman terlihat menyebar dan hal ini memicu diskusi.

Dalam beberapa bulan terakhir, Xi semakin menekankan masalah terorisme dalam pidato-pidatonya, dan ia mengadakan pertemuan pertama Komisi Keamanan Nasional yang baru dibentuk. Lembaga ini adalah yang pertama di China dan mencari pendekatan yang lebih komprehensif terhadap ancaman di dalam dan luar negeri.

Di tempat-tempat seperti Xinjiang, pemerintah sejauh ini sangat bergantung pada kemajuan ekonomi sebagai jawaban semua masalah. Namun para pengkritik mengatakan opresi agama dan kebijakan pemerintah terhadap minoritas merupakan kunci utama bagi keresahan lokal.

Namun dalam pidato baru-baru ini, ketika Xi berjanji menindak tegas teroris, ia juga berbicara mengenai pentingnya mengatasi konflik-konflik sosial sebagai cara untuk mencegah masalah serupa di masa yang akan datang.

Konflik Sosial

Beberapa analis mengatakan hal ini dapat menandai pendekatan baru yang berbeda dari yang lama di tempat-tempat seperti Xinjiang, dimana pihak berwenang telah secara rutin meningkatkan kehadiran polisi dan opresi agama untuk menanggapi kekacauan.

Gardner Bovingdon, analis minoritas etnis China di Indiana University, meragukan Xi akan menindaklanjuti pendekatan baru ini dengan kebijakan yang lebih nyata dan perubahan dalam arah kebijakan.

James Nolt, anggota senior di Lembaga Kebijakan Dunia, mengatakan, World meski setiap negara khawatir dengan terorisme, ia tidak melihat adanya perbedaan substansial antara Xi dan pendahulunya.
XS
SM
MD
LG