Tautan-tautan Akses

Charles Taylor Bicara pada Sidang Kejahatan Perang


Mantan Presiden Liberia, Charles Taylor saat menunggu sidang pengadilan kejahatan perang di dekat Den Haag, Belanda (16/5).

Mantan Presiden Liberia, Charles Taylor saat menunggu sidang pengadilan kejahatan perang di dekat Den Haag, Belanda (16/5).

Meski menyatakan simpati pada korban kejahatan perang, mantan Presiden Liberia itu tak meminta maaf atas kekejaman pemberontak Sierra Leone yang dipersenjatainya.

Mantan Presiden Liberia Charles Taylor menyampaikan "simpati terdalam" bagi mereka yang menderita selama perang sipil brutal di Sierra Leone - tapi tak sampai meminta maaf atas kekejaman yang dilakukan oleh pemberontak yang dipersenjatainya dengan imbalan berlian.

Sebaliknya, Taylor mengatakan kepada hakim di Den Haag Rabu bahwa tindakannya selama konflik berdarah itu dilakukan demi membawa perdamaian bagi Sierra Leone.

Mantan presiden itu menyampaikan permohonan banding untuk keringanan hukuman selama 20 menit dihadapan hakim dalam sidang penghukuman pada hari Rabu.

Pengadilan Khusus untuk Sierra Leone yang didukung PBB itu bulan lalu menyatakan Taylor bersalah atas 11 tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk aksi terorisme, pembunuhan, perkosaan dan perekrutan tentara anak.

Jaksa telah meminta agar mantan pemimpin berusia 64 tahun itu dihukum 80 tahun penjara. Pengacara Taylor telah menyatakan hukuman penjara 80 tahun akan terlalu keras dan menempatkan terlalu banyak kesalahan pada Taylor.

Dia dijadwalkan akan divonis pada tanggal 30 Mei.
XS
SM
MD
LG