Tautan-tautan Akses

Capres Ghana Janjikan Pemerintah yang Inklusif


ARSIP – Seorang pria menggunakan hak suaranya di TPS selama proses pemilihan presiden (7/12/2012). Accra, Ghana. (foto: REUTERS/Stringer).

ARSIP – Seorang pria menggunakan hak suaranya di TPS selama proses pemilihan presiden (7/12/2012). Accra, Ghana. (foto: REUTERS/Stringer).

Pemerintahan yang inklusif adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan sejumlah besar masalah yang dihadapi rakyat Ghana menurut calon presiden dari All People's Congress (APC).

Calon presiden dari kubu oposisi di Ghana, All People’s Congress (APC) menjanjikan pemerintahan yang inklusif, yang katanya, merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan sejumlah besar masalah yang dihadapi rakyat Ghana.

Hassan Ayariga, yang mendirikan APC kurang dari enam bulan silam, mengatakan ia yakin akan memenangkan pemilihan presiden, setelah ia meluncurkan manifestonya di Aviation Social Center di ibukota, Accra.

Dalam wawancara dengan VOA, Ayariga mengatakan ia yakin rakyat Ghana akan mendukung rencananya untuk mengubah kehidupan rakyat di seluruh penjuru negara itu.

“Kami menjanjikan rakyat Ghana pembukaan lapangan kerja, pemerintahan inklusif yang merupakan satu-satunya cara mencapai kemakmuran bagi rakyat Ghana. Karena selama bertahun-tahun, kita melihat perubahan pemerintah dari NDC [National Democratic Congress] ke NPP [New Patriotic Party] dan dari NPP kembali ke NDC, dan Ghana masih bergulat dengan krisis ekonomi. Ini secara khusus menunjukkan pada kita bahwa satu partai politik saja tidak dapat mengelola negara kita,” ujar Ayariga.

Ada dua partai utama di Ghana. NDC yang berkuasa yang dipimpin presiden petahana John Dramani Mahama dan oposisi utama NPP yang dipimpin Nana Addo Dankwa Akufo-Addo. Mereka menjadi terkenal setelah diberlakukannya kembali pemerintahan konstitusional pada tahun 1992, serta kalah dan menang satu sama lain dalam pemilihan presiden berikutnya.

Para pengecam menyatakan dominasi NPP dan NDC membuat sulit bagi Ayariga dan APC untuk menang dalam pemilihan presiden tahun ini. Namun Ayariga tidak sependapat dengan penilaian tersebut.

“Selama bertahun-tahun kedua partai politik utama ini diberi mandat untuk mengelola ekonomi kita, namun di mana ekonomi kita sekarang? Dalam keadaan krisis. Ini artinya kedua partai politik ini, berapapun besarnya mereka, telah gagal dalam upaya mencapai kemakmuran dan upaya mencari solusi bagi masalah negara kita. Jadi otomatis kita harus menolak mereka,” ujar Ayariga.

Sebagian pendukung oposisi utama NPP menyatakan tampaknya Ayariga didanai oleh lawan mereka untuk merongrong dan mendestabilisasi partai itu sebelum pemilihan presiden, legislatif dan lokal. [uh]

XS
SM
MD
LG