Tautan-tautan Akses

Calon Legislatif Potensial pada Pemilu 2014 Minim

  • Fathiyah Wardah

Para pengamat menyoroti mimimnya calon legislatif potensial pada Pemilu 2014 (Foto: dok).

Para pengamat menyoroti mimimnya calon legislatif potensial pada Pemilu 2014 (Foto: dok).

Pengamat menyatakan minimnya calon legislatif potensial pada pemilu 2014 akan sulit bagi DPR untuk memperbaiki citranya pada masa mendatang.

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran Ucok Sky Khadafi kepada VOA, Jumat (26/4) menyayangkan masuknya kembali sejumlah anggota legisatif yang kerap dikaitkan dengan berbagai kasus dugaan korupsi dalam pemilihan umum 2014.

Diantaranya Setya Novanto (kasus suap PON Riau, Tamsil Lindrung (Suap Dana Infrastruktur Daerah) dan I Wayan Koster (Kasus Hambalang) kembali berada dalam daftar calon legislatif.

Menurut Ucok, Partai politik seharusnya bisa membuka diri terhadap calon-calon yang memiliki integritas, dan harus ada aturan yang membatasi pendanaan partai karena pembiayaan partai tidak jelas. Inilah lanjutnya salah satu penyebab munculnya kader-kader partai yang korup.

"Orang-orang yang jujur punya integritas, punya tanggung jawab dan intelektual terhadap masyarakat ketika dia terpilih itu mereka buang dan mereka abaikan, karena orang kayak gini punya idealisme, kejujuran, ini sangat berbahaya sekali bagi pengurus partai," kata Ucok. "Ini dianggap merombak atau menjungkirkan para pengurus kalau mereka masuk di dalam DPR, makanya mereka lebih baik mereka memiliki pesohor atau artis. Atau anggota dewan saat ini yang bisa diajak berteman," tambahnya.

Dalam pemilu 2014 mendatang, hampir semua partai politik juga menggandeng artis sebagai calegnya. Mereka di antaranya Yenny Rahman dan Dede Yusuf (Partai Demokrat), Yessy Gusman dan Edo Kondologit (PDIP), Katon Bagaskara dan Ari Lasso (Partai Golkar), Mat Solar dan Angel Lelga (PPP), Arzetti Bilbina dan Akrie ‘Patrio’ (PKB), Lisa Natalia dan Gisel (PAN), David Chalik dan Andre Hehanusa (Hanura), serta Irwansyah dan Helmalia Putri (Gerindra).

Ucok menambahkan Partai politik kembali mengandalkan nama para artis sebagai caleg karena popularitas dan nama besar dianggap akan mampu mendongkrak perolehan suara parpol.

Menurutnya partai politik hanya mengedepankan popularitas dan modal dalam memilih calon legislatif.

"Pokoknya buat mereka partainya dapat suara dulu. Masalah kualitas, aspirasi, publik yang selama ini parpol gembor gemborkan itu nanti saja, buat mereka itu bukan suatu pertanggung jawaban ketika partainya itu meraih suara terbanyak. Pimpinan partai-partai ini merasa artis ini masih dikendalikan oleh mereka nanti," papar Ucok Sky Khadafi.

Sementara itu pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk mengungkapkan minimnya calon potensial akan sulit bagi DPR untuk memperbaiki citranya pada masa mendatang.

"Bukankah kemarin keluhan kita, anggota legislatif periode 2009-2014 ini adalah kualitas, kualitas turun. Itu yang paling buruk dari dua periode sebelumnya. Nah itu juga yang harus diperbaiki. Kita gagal mencari orang yang berkualitas tinggi," kata Hamdi Muluk. "Menurut saya, harus dikritisi juga jika ada pengusaha yang tidak mempunya track record politik, tidak pernah masuk partai hanya punya uang saja, tiba-tiba jadi caleg jangan dipilih, jadi jangan artis saja," lanjutnya.
XS
SM
MD
LG