Tautan-tautan Akses

Bunker Kuno Ditemukan di Komplek Balaikota Solo

  • Yudha Satriawan

Bunker kuno yang ditemukan di Komplek Balaikota Solo (VOA/Yudha Satriawan)

Bunker kuno yang ditemukan di Komplek Balaikota Solo (VOA/Yudha Satriawan)

Tim dari Badan Perlindungan Cagar Budaya Jawa Tengah menemukan bunker (ruang bawah tanah) kuno yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Balaikota Solo.

Alat berat ekskavator terus menggali gundukan tanah di salah satu sudut kompleks Balaikota Solo. Lima orang terlihat memukul dan menghancurkan pondasi bangunan yang terlihat menyembul dari permukaan tanah. Mesin penyedot air terus menyala membuang genangan air yang mengelilingi bangunan di gundukan tanah tersebut.

Akhirnya sebuah bangunan mulai tampak dilengkapi tangga menurun menuju pintu masuk yang masih berkubang lumpur. Sebuah ruang tersekat menjadi dua dan mirip lorong, salah satunya masih tertutup bongkahan batu dan gundukan lumpur kering. Tim dari Badan Perlindungan Cagar Budaya Jawa tengah itu pun terus menggali dan membersihkan bangunan bawah tanah tersebut.

Juru bicara tim BPCB Jawa Tengah, Gutomo saat ditemui di lokasi penggalian mengatakan bangunan tersebut adalah bunker atau ruang bawah tanah. Gutomo memperkirakan usia bangunan tersebut sudah mencapai ratusan tahun dan peninggalan kolonial Belanda, jauh sebelum Kemerdekaan Indonesia.

“Dulu kompleks Balaikota Solo ini 'kan kantornya residen saat masa penjahan Belanda, residen itu tinggal di Benteng Vasternberg depan Balaikota Solo..ya bunker ini mungkin pada masa itu untuk berlindung dari gangguan keamanan atau serangan musuh. Bunker ini dipakai untuk sementara sembunyi," kata Gutomo. "Usia bunker ini kalau dilihat ya sama dengan saat Jenderal Daendels berkuasa, tahun 1890-an atau awal tahun 1900-an, abad 19, ya berarti usianya lebih dari 100 tahun. Ini kajian sejarah yang kita kaitkan dengan pembangunan benteng Vasternberg di dekat Balikota Solo ini lho ya," lanjutnya.

Tim Badan Perlindungan Cagar Budaya Jawa tengah ini pun terus melakukan penggalian dan penelusuran untuk mencari bangunan kuno lain di sekitar lokasi tersebut.

Sejumlah warga yang tertarik dengan penemuan tersebutpun menonton langsung ke lokasi penggalian. Salah seorang warga di Solo, Dhefi Nugroho mengungkapkan ketertarikannya pada penemuan bunker kuno tersebut.

Dhefi yang ikut menjajal masuk ke bunker berharap bunker kuno ini bisa menjadi obyek wisata dan penelitian sejarah baru di Solo. “Iya tadi saya sempat boleh masuk ke dalam bunker ini. Kondisi di dalam masih sangat gelap sekali, masih tergenang air (dengan) ketinggian di atas mata kaki orang dewasa, (dan) bongkahan-bongkahan batu sisa pengerukan yang belum diambil ke atas," kata Dhefi Nugroho. "Dari sisi bentuk bunkernya masih sangat bagus. Bunker ini kalau dijadikan obyek wisata baru di Solo akan sangat menarik. Bunker ini bentuk peninggalan masa lampau, jaman penjajahan kolonial Belanda ...sangat menarik utnuk diteusuri,” lanjutnya.

Bangunan ruang bawah tanah atau bunker tersebut berada di pojok utara kompleks Balaikota Solo. Atap bangunan menyembul dan melengkung di atas tanah. Ada tangga menurun menuju pintu masuk.

Ukuran di dalam bunker tersebut sekitar 15 meter panjangnya dengan lebar sekitar 7 meter. Ruangan bunker tersekat menjadi dua dan mirip lorong. Ventilasi lubang udara terlihat di atap bunker. Bongkahan batu, lumpur, dan tanah masih menutupi salah satu lorong di dalam bunker tersebut.
XS
SM
MD
LG