Tautan-tautan Akses

Tingginya Suku Bunga Pinjaman Hambat Upaya Percepat Pertumbuhan Ekonomi


Petugas di Bank Indonesia menghitung uang di kantor pusat di Jakarta. (Foto: Ilustrasi)

Petugas di Bank Indonesia menghitung uang di kantor pusat di Jakarta. (Foto: Ilustrasi)

Bank-bank, yang telah mengurangi ekspansi kredit saat ekonomi melamban, mengatakan kondisi-kondisi likuiditas membuat mereka sulit menurunkan suku bunga pinjaman.

Ketika Presiden Joko Widodo 11 bulan lalu menyerukan agar suku bunga pinjaman yang dibayarkan ke bank "jatuh, jatuh, jatuh" dan menjadi satu digit, bisnis-bisnis di negara ini bersorak.

Namun di awal tahun 2017 ini, tingkat bunga pinjaman masih dua digit, di atas target 9 persen dari Presiden, meskipun Bank Indonesia telah memotong suku bunga acuannya enam kali tahun lalu.

Situasi ini mengancam melemahkan upaya Presiden untuk membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang macet. Mendapatkan lebih banyak investasi adalah penting untuk meningkatkan pertumbuhan tahunan dari 5 persen menjadi 7 persen -- satu lagi target ambisius Presiden -- di tengah kekurangan pendapatan yang berarti pemerintah tidak dapat menaikkan belanja.

Penurunan margin dalam suku bunga membuat para regulator frustrasi.

"Kami menyeru bank-bank dan menanyakan mengapa suku bunga masih tinggi," ujar Nelson Tampubolon, kepala pengawas perbankan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kepada Reuters.

Bank-bank, yang telah mengurangi ekspansi kredit saat ekonomi melamban, mengatakan kondisi-kondisi likuiditas membuat mereka sulit menurunkan suku bunga pinjaman.

Para pejabat berharap 2017 akan lebih baik. Pinjaman meningkan bulan November, dibantu harga-harga komoditas yang lebih tinggi. Dan dana-dana yang kembali ke dalam negeri lewat program amesti pajak meningkatkan deposito, yang menurut beberapa bank tidak cukup menyokong pinjaman baru.

OJK menargetkan agar pinjaman naik 13,5 persen tahun ini, di atas tingkat tahun 2016 pada 7-9 persen. Namun di antara kendala-kendalanya adalah antisipasi kenaikan suku bunga di AS, yang dapat menarik lebih banyak uang dari negara-negara berkembang, dan ketidakpastian perdagangan dunia dengan terpilihnya Donald Trump menjadi presiden.

Devaluasi Besar di Masa Lalu

Secara tradisional, tingkat suku bunga pinjaman dalam rupiah selalu tinggi, sebagian karena sejarah mata uang Indonesia, yang termasuk devaluasi yang meroket.

Pada krisis moneter Asia tahun 1997-98, rupiah jatuh sampai 17.000 per dolar dari 2.000, inflasi sempat memuncak pada 80 persen dan sejumlah bank jatuh.

Baru-baru ini, rupiah telah stabil, terapresiasi 2,6 persen pada 2016 dan inflasi ada di bawah 4 persen.

Bulan Oktober, tingkat pinjaman rata-rata untuk pinjaman modal kerja adalah 11,6 persen, lebih dari dua kali lipat tingkat acuan BI pada 4,75 persen.

Menurut Bank Dunia, pada tahun 2015, tingkat pinjaman Indonesia lebih tinggi daripada Vietnam dan bahkan Papua Nugini, salah satu negara termiskin di Asia. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG