Tautan-tautan Akses

BPS: Tahu, Tempe Hingga Biaya Pendidikan Picu Inflasi

  • Iris Gera

Sebuah pasar tradisional di Medan, Sumatera Utara (foto: dok). Kepala BPS mengatakan, inflasi di Indonesia selama bulan Agustus 2012 mencapai 0,95 persen.

Sebuah pasar tradisional di Medan, Sumatera Utara (foto: dok). Kepala BPS mengatakan, inflasi di Indonesia selama bulan Agustus 2012 mencapai 0,95 persen.

Inflasi bulan Agustus 2012 dipicu oleh berbagai hal mulai dari kenaikan harga tahu dan tempe, hingga tingginya biaya pendidikan tingkat perguruan tinggi.

Kepada pers di Jakarta, Senin, Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS, Suryamin menyampaikan inflasi yang terjadi selama Agustus 2012 mencapai 0,95 persen. Angka tersebut diakui kepala BPS, Suryamin termasuk tinggi karena dipicu oleh berbagai hal yang terjadi di tingkat nasional terutama terkait perayaan Idul Fitri.

“Penyebab utamanya adalah angkutan udara ini karena permintaan jasa angkutan udara meningkat sebelum dan setelah lebaran, naik di 41 kota, kemudian ikan segar ini karena memang kurang pasokan dari nelayan hingga cuaca juga ya, angkutan antar kota juga terjadi kenaikan penyebab utama inflasi, yang berikutnya tahu dan tempe dipengaruhi oleh harga bahan baku yaitu kedelai dan juga permintaan cukup tinggi, kemudian daging sapi, kemudian yang juga mendorong adalah uang kuliah baik untuk akademi maupun perguruan tinggi,” ujar Suryamin.

Pengamat pertanian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI, Ndang Sukara berpendapat, meski banyak faktor memicu terjadi inflasi, tingginya harga pangan adalah penyebab utama. Sebelum pemerintah memiliki kemauan serius untuk mampu lebih maju dan berkembang dibanding saat ini dalam hal pangan termasuk mensejahterakan para petani, persoalan pangan di Indonesia sulit untuk berubah.

Ndang Sukara mengatakan, “Sepanjang bangsa Indonesia itu tidak bisa keluar dari pangan seperti sekarang ini ya memang agak sulit, dilain pihak menurut saya ada juga sih kesempatan untuk mensejahterakan petani di Indonesia, katakanlah masalah kedelai malah kita ingin meng nol kan biaya masuk impor kedelai, kalau di Amerika kan antara importer dan grower itu satu kesatuan, dia mengimpor dia grower juga, harusnya justeru ada insentif pada petani untuk segera menanam komoditi yang memang dibutuhkan pasar.”

Sementara, menurut aktivis Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Said Abdullah, pemerintah harus paham bahwa persoalan pangan di tanah air juga dimulai karena minimnya lahan yang dapat digarap petani. Kondisi tersebut ditambahkannya membuat petani tidak bersemangat sehingga berpengaruh negatif terhadap produktifitas petani dan produksi komoditas yang dihasilkan. Para petani saat ini hanya dapat pasrah dengan menjadi buruh tani.

“Kalau ke desa, ambil case di Karawang ya, kan di Karawang itu lapisannya banyak misalnya ada pemilik tanah, kalau pemilik tanah kan kecenderungannya dia punya lebih dari 2 hektar, bagi petani yang punya lahan diatas 2 hektar itu cenderung aman karena minimum penguasaan lahan yang efektif, efisien untuk memenuhi kebutuhan selama 3-4 bulan masa tanam, dua hektar itu, artinya kalau toh ada dampak tidak akan sebesar dampak yang dirasakan orang yang punya lahan 0,5 hektar, apalagi yang nggak punya lahan ya, padahal proporsi penguasaan lahan dikita, petani kita kan punya lahan hanya 0,5,” ungkap Said Abdullah.

BPS mencatat inflasi periode Januari hingga Agustus 2012 mencapai 3,48 persen sementara target pemerintah untuk inflasi hingga akhir tahun ini sebesar 5,5 persen. Pemerintah akan berupaya menekan laju inflasi tahun depan menjadi 4,9 persen agar ekonomi terus tumbuh.
XS
SM
MD
LG