Tautan-tautan Akses

BPS: Perdagangan dengan Amerika Masih Surplus

  • Iris Gera

Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) Suryamin (Foto: dok).

Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) Suryamin (Foto: dok).

Kinerja ekspor Indonesia, menurut Kepala BPS terus melemah sejak larangan ekspor bahan tambang mentah diterapkan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Senin (2/6) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2014 defisit sebesar 900 juta dolar Amerika.

Kinerja ekspor Indonesia, menurut Kepala BPS, Suryamin, terus melemah sejak diterapkannya larangan ekspor bahan tambang mentah sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batubara.

“Ini karena memang sebagian besar dampak dari undang-undang pelarangan ekspor minerba. Karena memang harapan pemerintah itu kan, menahan ekspor barang yang tidak diproses sama sekali, dilakukan proses dulu disini untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah, akhirnya ke PDB nanti bisa meningkat,” kata Suryamin.

Namun ditambahkan Kepala BPS, Suryamin, meski ekspor Indonesia ke berbagai negara sepanjang tahun 2014 rata-rata defisit, perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat surplus.

“Dengan Asean kita defisit, dengan negara utama lainnya China dan Jepang defisit, tetapi dengan Amerika dan India kita surplus cukup tinggi, Amerika permintannya cukup tinggi, tidak terpengaruh dengan krisis yang masih berlangsung,” tambahnya.

Sementara pada kesempatan berbeda, Menteri Keuangan, Chatib Basri merespon melemahnya nilai tukar rupiah saat ini sekitar Rp 12.000 per dolar Amerika, melemah dari sebelumnya sekitar Rp 11.400 per dolar Amerika.

Kalangan pengamat menilai, melemahnya nilai tukar rupiah sebagai dampak negatif karena terus defisitnya perdagangan Indonesia sehingga investor pesimistis terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Akibatnya terjadi capital outflow sehingga mata uang dollar Amerika langka menyebabkan nilainya naik.

Menurut Menteri Keuangan, Chatib Basri di Jakarta, Selasa (3/6), melemahnya nilai tukar rupiah saat ini hanya sementara dan akan kembali menguat seiring dengan membaiknya kinerja ekspor Indonesia ke berbagai negara. Ditambahkan Menteri Chatib Basri dengan keseriusan pemerintah mengatasi persoalan ekspor tambang, kinerja ekspor Indonesia akan kembali pulih.

“Ya, saya selalu bilang kalau rupiah itu biarin aja bergerak mengikuti fundamentalnya. Toh masih di dalam range. Kita lihat saja asumsi APBN nya berapa, tetapi saya lihat bahwa trendnya ini temporer karena saya percaya ekspor bulan depan akan lebih baik," kata Chatib Basri. "Pak Chairul sudah mulai bicara mengenai penyelesaian solusi-solusi itu, kalau itu dilakukan kan ekspor mineralnya bisa naik,” tambahnya.

Dalam perkembangan terakhir terkait diterapkannya kebijakan larangan ekspor bahan tambang mentah, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Perekonomian terus berkomunikasi dengan para pengusaha sektor pertambangan.

Pemerintah berharap dengan kesepakatan Freeport dan Newmont membangun pabrik pemurnian mineral atau smelter bersama, diikuti oleh perusahaan tambang lainnya agar kinerja ekspor pertambangan kembali pulih sekaligus menciptakan lapangan kerja.
XS
SM
MD
LG