Tautan-tautan Akses

BPBA: Akses Komunikasi di Aceh Mulai Pulih

  • Budi Nahaba

Suasana di pusat kota Takegon, ibukota provinsi Aceh Tengah (VOA/Budi Nahaba).

Suasana di pusat kota Takegon, ibukota provinsi Aceh Tengah (VOA/Budi Nahaba).

Bantuan transponder satelit berteknologi tinggi di wilayah bencana Aceh, dilaporkan cukup efektif dalam membantu komunikasi dalam pencarian korban, distribusi bantuan dan upaya evakuasi lanjutan pasca gempa.

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Wahyudi Burhan mengatakan, bantuan transponder satelit berupa instalasi komunikasi lapangan yang canggih milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB, yang dikerahkan ke lokasi bencana, berfungsi cukup efektif untuk memperkuat koordinasi pencarian korban dan evakuasi lanjutan.

“Perangkat penguat sinyal komunikasi (transponder) BPBA yang diturunkan ke lokasi berfungsi efektif. Komunikasi mulai normal, 80 persen. Listrik juga mulai normal sementara kebutuhan air bersih normal,” kata Wahyudi Burhan.

Sebelumnya, dalam arahan teknis upaya penanganan prioritas korban , Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Rabu lalu (3/7) di lokasi bencana memastikan koordinasi penanganan korban bidang kesehatan agar lebih dimaksimalkan. Upaya tersebut meurut Gubernur bertujuan demi menyelamatkan korban luka, terutama dalam penanganan kasus patah tulang hingga tindak bedah, termasuk upaya penanganan rujukan lanjutan ke rumah sakit di level provinsi di Banda Aceh.

“Intansi terkait agar mendampingi para korban, bersikap fokus. Pak Gubernur telah menetapkan selama 14 hari pertama masa tanggap darurat," demikian keterangan juru bicara pemerintah Aceh Nurdin F Jose .

Setelah menetapkan 14 hari masa tanggap darurat, setelah mendapat arahan Presiden, Gubernur Zaini dijadwalkan akan menetapkan level dan status skala penanganan dan pemulihan multi sektor pasca gempa untuk ditindaklanjuti di lapangan pekan depan.

“Menetapkan darurat bencana level provinsi atau nasional ataupun tingkat kabupaten, gubenur malam ini (dari Jakarta) segera pulang ke Aceh,” lanjut Nurdin F Jose.

Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief kepada pers di Jakarta mengungkapkan bahwa penyelamatan dan pedataan korban masih terus dilakukan. Menurut Andi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama instansi terkait dan masyarakat sedang melakukan penanganan darurat, terutama upaya pencarian, penyelamatan dan pendataan korban pasca gempa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan fokus utama upaya pemulihan di minggu pertama salah satunya mencari para korban, membantu warga yang cedera dan menyediakan perbekalan untuk warga yang membutuhkan.

Pihak BNPB menyatakan 275 orang cedera dan lebih 4.300 rumah dan gedung rusak akibat gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter pada Selasa di dua wilayah kawasan pegunungan tengah provinsi Aceh itu.

Pakar Geologi, Faisal Ardiansyah dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, mengatakan gempa di Bener Meriah merupakan gempa tektonik dari segmen patahan Sumatera atau patahan Semangko. Menurut Faisal, gempa tersebut merupakan gempa darat yang bukan disebabkan oleh aktivitas gunung berapi Burni Telong yang ada di kawasan Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Hari Selasa (2/7) Survei Geologi Amerika USGS mengatakan gempa berkekuatan 6,2 skala Richter melanda kawasan itu pukul 4:37 sore waktu lokal. Gempa berpusat di bawah tanah, sekitar 55 kilometer selatan kota Bireuen dengan kedalaman yang cukup dangkal pada 10 kilometer.
XS
SM
MD
LG