Tautan-tautan Akses

AS

Bosan dengan Kampanye, Pemilih AS Terhibur oleh Lelucon Halloween


Pekerja di pabrik pembuatan topeng Donald Trump di Jinhua, provinsi Zhejiang, China. (Foto: Dok)

Pekerja di pabrik pembuatan topeng Donald Trump di Jinhua, provinsi Zhejiang, China. (Foto: Dok)

Berbagai pesta Halloween menjadi ajang melampiaskan perasaan frustrasi warga atas kampanye yang tengah berlangsung.

Hanya sekitar sepekan menjelang pemilu, banyak warga Amerika yang mulai bosan dengan kampanye para calon presiden yang berkepanjangan dan penuh perselisihan.

Banyak di antara mereka menyatakan tidak percaya pada kedua calon. Pesta kostum dan pawai Halloween memberi mereka kesempatan untuk melonggarkan ketegangan ini.

Bukannya mengenakan kostum seperti tukang sihir dan hantu, banyak warga Amerika yang menyaru seperti kandidat presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton atau kandidat Partai Republik Donald Trump dalam berbagai acara Halloween yang dimulai Jumat lalu (28/10) dan akan berakhir Senin malam.

Fantasy Fest, sebuah festival Halloween di kawasan Key West, Florida, meniru-niru kedua kandidat dalam arak-arakan melewati jalan-jalan di sana.

Berbagai pesta Halloween menjadi ajang melampiaskan perasaan frustrasi warga atas kampanye yang tengah berlangsung. Banyak orang memberikan suara lebih awal sekedar untuk terbebas dari perasaan frustrasi tersebut.

“Menurut saya kedua kandidat itu sama saja. Mereka mengatakan akan meningkatkan taraf hidup rakyat Amerika yang berpenghasilan rendah dan tak ada sesuatupun yang pernah dilakukan karena mereka tidak bisa berhenti saling bertikai. Tetapi saya tetap memilih karena suara saya penting untuk didengar," ujar Jackie Long, seorang warga yang memilih lebih awal di Ohio.

Tetapi sebagian orang di kawasan-kawasan industri yang tertinggal, seperti di beberapa bagian Ohio, berharap Trump dapat membangun kembali mata pencarian mereka.

Diane Cline, seorang warga Ohio yang menganggur mengemukakan: “Dialah satu-satunya harapan yang kita miliki. Dialah satu-satunya harapan negara ini sekarang."

Clinton mengunjungi Ohio hari Senin dalam upaya mengubah pendapat mereka. Hari Minggu, ia mengakhiri kampanyenya di Florida, negara bagian yang belum pasti dimenangkannya.

“Ini bukan sekedar apa yang kita tentang, tetapi juga mengenai apa yang kita dukung, karena kita juga memiliki visi yang sama, di luar keberpihakan pada partai dan politik, yakni Amerika yang inklusif dan penuh harapan," ujarnya.

Pesaingnya, Trump, berkampanye di Michigan hari Senin setelah mengunjungi beberapa negara bagian di barat pada akhir pekan lalu. Trump berharap dapat membujuk para pemilih bahwa ia lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan pesaingnya.

"Hillary menjual jabatan menteri luar negeri. Lihatlah apa yang terjadi. Dan jika mendapat kesempatan, ia juga akan menjual Oval Office. Ia menjualnya untuk kepentingan-kepentingan khusus dan diktator asing, siapapun yang menawarkan harga yang tepat, dan biasanya harga yang paling tinggi," ujarnya.

Yang membantu upaya Trump beberapa hari menjelang pemilu ini adalah kemunculan terbaru skandal email Clinton yang membayangi pesaing Trump itu sejak awal kampanyenya. Dalam kampanye di Phoenix, Arizona, Trump menyebut raibnya sekitar 30 ribu email dari server pribadi Clinton sebagai skandal terbesar setelah kasus Watergate. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG