Tautan-tautan Akses

BNPT Masih Selidiki Pilot Indonesia yang Gabung dengan ISIS

  • Fathiyah Wardah

Foto yang dipasang di halaman Twitter Front al-Nusra yang terkait al-Qaida di Suriah, menunjukkan para pejuang kelompok tersebut di kota Jisr al-Shughour, provinsi Idlib, Suriah, April 2015.

Foto yang dipasang di halaman Twitter Front al-Nusra yang terkait al-Qaida di Suriah, menunjukkan para pejuang kelompok tersebut di kota Jisr al-Shughour, provinsi Idlib, Suriah, April 2015.

Sebagian besar warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS berada di kelompok Jabhat al-Nusra atau Front al-Nusra yang juga memerangi pemerintahan Presiden Suriah.

Anggota tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto, hari Senin (13/7) mengatakan, lembaganya hingga saat ini masih mendalami informasi adanya dua pilot Indonesia, Ridwan Agustin dan Tomi Hendratno, yang diduga bergabung dengan kelompok militan Negara Islam (ISIS).

BNPT akan terus berupaya menghubungi berbagai pihak yang ada di Suriah, ujarnya, diantaranya sejumlah orang yang berada di satu kelompok mujahid atau jihadis yang berada di wilayah itu. Saat ini ada 14 kelompok mujahid di Suriah.

Beberapa mujahid yang berada di satu kelompok tersebut, kata Wawan, bisa memberikan informasi dan berkomunikasi dengan BNPT.

Menurut Wawan, sejumlah warga negara Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS berada di sejumlah faksi di Suriah. Sebagian besar warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS berada di kelompok Jabhat al-Nusra atau Front al-Nusra yang juga memerangi pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, ujarnya. Front al-Nusra ini berafiliasi dengan al-Qaida.

"Dengan kelompk mujahid tertentu itu memang mereka bisa berkomunikasi tetapi mereka belum tahu pasti posisi dua pilot itu sehingga ini yang masih tanda tanya jatuh ke kelompok mana. Itu yang masih dalam penelusuran," ujarnya.

Pendalaman informasi ini dilakukan untuk memastikan apakah laporan intelijen Kepolisian Federal Australia (AFP) benar atau tidak, tambahnya. BNPT, menurut Wawan, juga menelusuri Facebook, bukti komunikasi, keterangan saksi dan data penunjang lainnya.

Hasilnya, tambah Wawan, memang terlihat ada indikasi dukungan kepada ISIS tetapi hal itu bukanlah satu-satunya petunjuk bahwa mereka pasti bergabung dengan ISIS.

"Ini juga perlu bukti-bukti yang otentik, karena menuduh orang seperti itu kan cukup membuat nama dan kredibilitas orang menjadi luntur," ujarnya.

Kabar dua pilot Indonesia yang bergabung di ISIS itu dilansir situs asal Amerika Serikat, The Intercept, berdasarkan bocoran dokumen yang mereka miliki soal laporan intelijen Kepolisian Federa Australia. Dokumen itu berjudul "Operational Intelligence Report: Identification of Indonesian Pilots with Possible Extremist Persuasions."

Menurut dokumen AFP itu, Ridwan, yang memiliki nama alias Ridwan Ahmad Al Indonesiy adalah mantan pilot AirAsia, sedangkan Tomi alias Tommy Abu Al-Fatih disebut sebagai mantan tentara. Terakhir dia bekerja di Premiair, perusahaan penerbangan sewaan untuk penumpang VIP yang beroperasi di Indonesia.

Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Arief Darmawan, meminta pemerintah dan parlemen membuat undang-undang yang bisa menjerat para simpatisan kelompok teroris.

Selama ini, lanjutnya, polisi tidak bisa menindak atau melarang mereka yang diduga bersimpati kepada ISIS karena tidak memiliki kewenangan. Undang-undang terorisme menyatakan bahwa pelaku terorisme hanya bisa ditindak jika telah terbukti beraksi.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama Said Aqil Siradj mengatakan bahwa orang yang terlibat kelompok radikal ISIS dipastikan mereka tidak memahami Islam secara benar.

"Karena dalam Quran dilarang ada kekerasan, tidak boleh ada kekerasan dalam menyebarkan agama," ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG