Tautan-tautan Akses

BNPT Gelar Pelatihan Anti Terorisme untuk Lurah dan Camat di Solo

  • Yudha Satriawan

Pelatihan anti-terorisme untuk lurah dan camat di Solo, 17-19 Desember 2014 (Foto: VOA/Yudha)

Pelatihan anti-terorisme untuk lurah dan camat di Solo, 17-19 Desember 2014 (Foto: VOA/Yudha)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar pelatihan bagi para lurah dan camat di Solo. Pelatihan ini untuk mengantisipasi aksi terorisme.

Sekitar 70 orang berseragam biru tampak memenuhi ruangan di salah satu hotel di Solo, Rabu siang (17/12). Mereka adalah para lurah dan camat dari 53 kelurahan dan lima kecamatan di Solo.

Kepala wilayah di Solo tersebut mendapat pelatihan dan materi anti terorisme yang digelar Badan Nasional Penanggulangan terorisme atau BNPT selama tiga hari ini.

Direktur pencegahan dari BNPT, Brigjen Polisi Antam Novambar, saat ditemui di lokasi tersebut mengatakan pelatihan bagi para lurah dan camat ini untuk mengefektifkan deteksi dini aksi terorisme. Menurut Antam, lemahnya sistem keamanan wilayah di tingkat kelurahan atau desa memantau warganya yang bergabung ke kelompok teroris.

“Kalau terkait ISIS, kita sudah berkoordinasi secara internasional dengan berbagai negara, kami ke Irak, ke Sudan, Checznya, Nigeria, dan sebagainya. Kita telusuri keterlibatan Warga Negara Indonesia yang masuk anggota ISIS itu. Sudah ada beberapa yang ditangkap, ada juga yang akan kembali atau pulang ke Indonesia. Makanya kita mengadakan pelatihan anti terorisme pada lurah, kepala desa, dan camat hingga kepala daerah di seluruh Indonesia, termasuk saat ini di Solo," kata Brigjen Polisi Antam Novambar​.

"Kita mau menghidupkan kembali sistem laporan warga pendatang 1 kali 24 jam. Lemahnya sistem ini selama ini, dari anggota kelompok teroris yang ditangkap, para tetangga tidak tahu, RT maupun lurah dan Kepala Desa juga tidak tahu aktifitas maupun identitas warganya tersebut. Ya ini kita hidupkan lagi warga pendatang untuk lapor ke RT atau lurah jika tinggal di suatu wilayah minimal 24 jam,” lanjutnya.

Lebih lanjut Antam mengungkapkan saat ini BNPT sedang menelusuri ke Arab terkait adanya Warga Negara Indonesia atau WNI yang ditangkap pemerintah setempat karena terlibat kelompok militan Negara Islam (ISIS). Bahkan pekan lalu, sekitar 12 WNI ditangkap pemerintah Malaysia karena hendak bergabung dengan ISIS di Timur Tengah.

Sementara itu, Pelatihan anti terorisme tersebut mendapat respon positif para lurah dan camat di Solo. Lurah Mojosongo Solo, Agus Triyono, mengatakan wilayahnya memiliki sejarah kelam menjadi lokasi persembunyian kelompok teroris dan penggerebekan yang menewaskan gembong teroris Noordin M Top, beberapa tahun silam.

“Ya memang wilayah Mojosongo Solo ini memiliki kisah kelam tentang terorisme. Kita mengambil hikmah dari peristiwa itu. Kita saling kerjasama dan koordinasi dengan RT-RW maupun warga dan aparat keamanan untuk memantau aktifitas warganya. Jangan sampai kejadian terorisme bertahun-tahun lalu yang menggemparkan itu kembali terulang. Kami terus waspada,” kata Agus Triyono.

Ungkapan senada juga dilontarkan Lurah Laweyan Solo, Yuyuk, yang wilayahnya pernah terpasang atribut berlogo ISIS. Menurut Yuyuk, antisipasi aksi terorisme harus dilakukan melalui deteksi dini.

“Sebagai barisan depan pemerintah di tingkat paling bawah kan lurah harus tahu segala aktifitas warganya..kami akan menyebarkan hasil pelatihan ini kepada masyarakat, terutama para RT dan RW di wilayah kami..lurah harus bisa deteksi dini terkait aksi terorisme,” jelas Lurah Laweyan Solo, Yuyuk.

Sebagaimana diketahui, Solo menjadi sorotan pemerintah terkait terorisme. Beberapa waktu lalu, atribut berlogo ISIS berupa mural atau gambar di tembok hingga pembentangan bendera berlogo ISIS marak di Solo. Pemerintah kota Solo bekerja sama dengan masyarakat dan aparat TNI POLRI menghapus dan mencopot atribut berlogo ISIS tersebut.

XS
SM
MD
LG