Tautan-tautan Akses

Biopsi Kulit Bisa Bantu Pengobatan Penyakit Kebutaan Sungai

  • Jessica Berman

Penyakit kebutaan sungai yang disebabakan oleh cacing parasit paling sering terjadi di sub-Sahara Afrika. Dalam fase aktif penyakit itu, cacing betina memproduksi jutaan telur mikroskopis yang bermigrasi ke berbagai jaringan di seluruh tubuh. Infeksi pada mata bisa menyebabkan kebutaan (foto: Dok).

Penyakit kebutaan sungai yang disebabakan oleh cacing parasit paling sering terjadi di sub-Sahara Afrika. Dalam fase aktif penyakit itu, cacing betina memproduksi jutaan telur mikroskopis yang bermigrasi ke berbagai jaringan di seluruh tubuh. Infeksi pada mata bisa menyebabkan kebutaan (foto: Dok).

Tes sederhana berupa biopsi kulit akan memungkinkan diagnosis yang lebih efektif dan pengobatan Onchocerciasis, juga dikenal sebagai penyakit kebutaan sungai, yang kini menimpa hampir 18 juta orang.

Orang menyebut Onchocerciasis dengan "kebutaan sungai" karena penyakit itu disebabkan oleh gigitan lalat hitam yang tertular parasit cacing yang hidup di dekat sungai. Penyakit itu paling sering terjadi di sub-Sahara Afrika, meskipun juga ada di beberapa bagian Yaman serta Amerika Tengah dan Selatan.

Parasit kebutaan sungai memiliki fase aktif dan tidak aktif, sehingga sulit untuk mengobati penyakit tersebut. Dalam fase aktif, cacing betina memproduksi jutaan telur mikroskopis yang bermigrasi ke berbagai jaringan di seluruh tubuh. Infeksi pada mata bisa menyebabkan kebutaan.

Penyakit itu biasanya diobati dengan Ivermectin, agen anti-parasit, yang menurunkan jumlah telur yang diproduksi cacing, dan antibiotik doksisiklin, yang mensterilkannya.

Tetapi, menurut Daniel Globisch, peneliti pada Scripps Research Institute di California, sulit untuk menentukan kapan cacing itu aktif. Padahal, informasi itu akan membantu penyedia layanan kesehatan mengetahui apakah pengobatan mereka ampuh atau tidak, serta mengurangi risiko penggunaan antibiotik berlebihan yang bisa meningkatkan kekebalan obat pada parasit kebutaan sungai.

Sekarang ini, menurut Globisch, satu-satunya cara memastikan bahwa cacing tersebut aktif adalah dengan melakukan biopsi kulit untuk mencari tanda-tanda adanya parasit. Ia mengatakan,
"Cara itu sangat invasif, juga menyakitkan dan benar-benar tidak nyaman. Itu sebabnya diagnostik non-invasif sama pentingnya."

Globisch dan timnya sudah menemukan cara diagnostik non-invasif. Mereka mengidentifikasi biomarker tunggal yang diproduksi cacing - bahan kimia yang mengirim sinyal dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain. Bahan kimia itu ada dalam urin atau air kencing pasien dalam fase aktif. "Penanda tunggal itu terkait siklus hidup cacing tersebut. Jadi, kami percaya, penanda itu sangat pas untuk melakukan tes," paparnya lagi.

Globisch mengatakan tes itu akan murah dan mudah dilakukan dimana saja. Orang-orang yang tertular juga menderita rasa gatal yang parah dan ilmuwan Scripps sedang meneliti obat untuk mengurangi gejala itu selama penderita kebutaan sungai membawa parasit tersebut.

Artikel mengenai tes urine bagi kebutaan sungai ini diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
XS
SM
MD
LG