Tautan-tautan Akses

Biogas: Solusi Murah untuk Gantikan Gas

  • Nurhadi Sucahyo

Pak Suharyanto (kiri), peternak kambing di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, memeriksa reaktor biogas yang sekaligus dijadikan sarana pengolahan pupuk organik (foto: VOA/Nurhadi).

Pak Suharyanto (kiri), peternak kambing di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, memeriksa reaktor biogas yang sekaligus dijadikan sarana pengolahan pupuk organik (foto: VOA/Nurhadi).

Rencana kenaikan berkala harga gas oleh pemerintah banyak membuat warga masyarakat resah, namun ada kelompok masyarakat yang mengatasinya dengan berpindah kepada pemanfaatan biogas.

Pemerintah berencana untuk menaikkan secara berkala harga gas LPG 12 kilogram hingga mencapai harga keekonomian agar Pertamina tidak terus merugi.

Mayoritas masyarakat akan resah begitu mendengar pengumuman bahwa pemerintah akan menaikkan harga gas LPG. Persoalannya, mereka kini tidak lagi menggunakan kayu bakar ataupun minyak tanah ketika memasak. Sehingga ketergantungan kepada LPG menjadi sangat besar. Bukan hanya kenaikan harga, kadangkala persoalan ditambah dengan minimnya pasokan di pasar.

Namun, ada sejumlah warga masyarakat yang tidak peduli berapapun kenaikan harga LPG dan apakah tersedia di warung dekat rumah atau tidak. Salah satunya adalah Suharyanto, peternak kambing di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Dia kini tidak lagi membutuhkan LPG produk Pertamina, karena telah memiliki reaktor biogas, yang mengubah kotoran kambing miliknya menjadi gas untuk kebutuhan dapur rumahnya.

"Kambing ini saya yakini kandungan gas metannya lebih tinggi. Akhirnya saya mencoba mengusulkan pada rapat kelompok itu, bagaimana kalau kita membuat biogas dari limbah kambing. Akhirnya teman-teman setuju, dan akhirnya kita buat. Bahkan sebetulnya bisa dimaksimalkan untuk 2-3 rumah itu reaktor saya yang berkapasitas 6 kubik," kata Suharyanto.

Sebelum memiliki reaktor biogas ini, biasanya Suharyanto membutuhkan empat tabung gas 3 kilogram setiap bulannya. Kini dia memenuhi kebutuhan gas itu secara gratis. Sejumlah tetangga yang juga memiliki kambing dan tergabung dalam kelompok peternak kambing Perkasa, mengikuti langkah Suharyanto. Menurutnya, selain gas, mereka juga memperoleh manfaat lain berupa pupuk organik siap pakai, untuk kebutuhan tanaman pangan mereka di sawah.

Ia menambahkan, "Saya bisa mengatakan begini, orang kalau memiliki ternak kalau tidak punya biogas, dia rugi sekali. Sebenarnya semuanya bisa saling berkaitan, antara peternakan, pertanian bahkan perikanan pun bisa. Karena limbah dari biogas ini sangat bagus juga untuk kita bikin pelet dan pestisida organik."

Program biogas rumah tangga ini dilaksanakan oleh organisasi nirlaba, Hivos. Sejak tahun 2009, organisasi ini telah membangun 12.600 reaktor biogas rumah tangga di 9 provinsi di Indonesia.

Dipaparkan Agi Cakradirana dari Hivos, peternak tidak memperoleh reaktor secara gratis. Hivos memberikan diskon Rp 2 juta untuk kebutuhan membangun reaktor, yang dalam skala kecil membutuhkan dana Rp. 7 juta. Pendampingan juga diberikan secara intensif, agar manfaat biogas benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Kalau kita lihat berdasarkan studi yang sudah kita lakukan, di Indonesia sebenarnya potensinya banyak sekali, bisa sampai satu juta pengguna, atau satu juta rumah tangga yang memanfaatkan biogas. Karena jumlah ternaknya banyak sekali, kemudian jumlah petaninya juga banyak dan tersebar di berbagai daerah. Jadi, ambisi kami, tahun ini misalnya harus mencapai 14 ribu, 15 ribu, kemudian tahun depan tambah lagi sekitar 2 ribu atau 3 ribu, dan seterusnya," ujar Agi Cakradirana.

Biogas semacam ini sangat tepat diterapkan bagi masyarakat petani atau peternak, asal mereka memiliki hewan ternak baik itu sapi ataupun kambing. Kekurangannya adalah karena tidak praktis dan membutuhkan investasi awal cukup besar bagi pemilik ternak. Namun, potensinya luar biasa untuk mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan gas, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga.

XS
SM
MD
LG