Tautan-tautan Akses

BIN dan Polisi Selidiki Keterlibatan 4 WNA dengan ISIS


Demonstrasi anti ISIS di Jakarta (5/9). (AP/Tatan Syuflana)

Demonstrasi anti ISIS di Jakarta (5/9). (AP/Tatan Syuflana)

Keempat warga asing itu patut dicurigai karena mereka hendak bergabung dengan kelompok radikal pimpinan Santoso, buron terduga teroris paling diincar kepolisian.

Badan Intelijen Negara (BIN) dan polisi tengah menyelidiki keterlibatan empat warga negara asing yang ditangkap Sabtu (13/9) dengan kelompok militan Negara Islam, atau sebelumnya disebut ISIS.

Empat warga asing berpaspor Turki dan tiga orang warga Palu, Sulawesi Tengah, itu ditangkap di kabupaten Parigi Moutong saat hendak menuju ke kabupaten Poso.

Kepala BIN Marciano Norman di Jakarta, Senin (15/9), mengatakan pihaknya untuk sementara ini berkesimpulan mereka masuk dalam kelompok garis keras.

"Patut diduga mereka satu aliran ya. Bahwa mereka adalah kelompok keras. Tapi apakah mereka itu kelompok keras itu berasal dari Timur Tengah yang juga tidak jauh dari berkembangnya negara Islamic State itu, tentunya perlu pendalaman. Beri kesempatan kita untuk melakukan pendalaman nanti kita akan sampaikan informasi yang lebih lengkap," ujarnya.

Namun BIN, menurut Marciano, menilai keempat warga asing itu patut dicurigai karena mereka hendak bergabung dengan kelompok radikal pimpinan Santoso, buron terduga teroris paling diincar kepolisian.

Marciano menuturkan selama ini jaringan teroris Santoso memiliki keterkaitan tak langsung dengan ISIS. Akan tetapi, Marciano menilai kepolisian masih perlu mendalami informasi itu lebih jauh lagi.

Sebelumnya Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Sutarman menjelaskan, keempat warga asing itu masuk ke Indonesia dengan menggunakan identitas palsu.

"Keempatnya mengaku dari Turki menuju ke Kamboja dengan menggunakan jalur laut. Sesampainya di Kamboja, mereka menempuh jalur darat menuju Thailand. Di Thailand, mereka membuat paspor palsu. Dengan paspor palsu ini, mereka pakai terbang dari Thailand menuju ke Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur ke Bandung, Bandung ke Makassar, Makassar ke Palu dan lanjut ke Parigilalu menuju ke Poso, lalu kita razia," ujarnya.

Kapolri menambahkan, setelah dilakukan penangkapan, polisi menyita beberapa dokumen seperti tiket pesawat dan paspor palsu. Saat ini keempatnya ditahan di markas Brimob Kelapa Dua Depok untuk menjalani pemeriksaan di mabes Polri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengapresiasi penangkapan empat terduga teroris itu. Meski demikian Presiden berpesan agar aparat keamanan dan masyarakat tetap waspada atas bahaya aksi-aksi teror yang sewaktu-waktu bisa muncul jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini.

"Sementara itu, saya juga mengikuti ada sejumlah tindakan kepolisian yang berhasil untuk menggagalkan gerakan-gerakan yang masih ingin melakukan aksi-aksi kekerasan. Ini berarti (meski demikian) jangan kita terlena seolah-olah yang berbahaya itu di luar negeri di timur tengah, tetapi kalau kita tidak waspada dan tidak melakukan sesuatu yang tepat, bisa juga terjadi (kekerasan teror) di negeri kita," ujarnya.

Pengamat teroris Al Chaidar kepada VOA berharap pemerintah terus memantau kelompok Wahabi yang berkembang pesat di Indonesia pasca reformasi.

"Diperlukan orang-orang yang mengerti sisi tentang kelompok Wahabi yang berkembang cukup pesat di Indonesia. Ada Wahabi Sururri, ada Wahabi Jihaddi, ada Wahabi Takfiri. Nah .. ISIS adalah kelompok Takfiri yang sangat kuat dan mengerikan bukan hanya buat pemerintah tetapi juga sesama umat Islam, karena mereka mudah sekali meng-kafirkan orang," ujarnya.

Al Chaidar menambahkan pemerintahan Joko Widodo akan menghadapi tantangan yang sangat berat dalam menangani aksi-aksi terorisme di Indonesia.

"Tantangan terutama dalam bidang terorisme, itu sangat-sangat berat. Karena bangkitnya kelompok-kelompok intoleran, anarkis dan kelompok yang menyukai pertumpahan darah atas nama keyakinan. Ini akan sangat kuat terjadi di Indonesia," ujarnya.

XS
SM
MD
LG