Tautan-tautan Akses

Biden Pertanyakan Temperamen dan Kualifikasi Trump sebagai Presiden


Hillary Clinton (kanan) berkampanye bersama Wapres Joe Biden di Scranton, Pennsylvania hari Senin (15/8).

Hillary Clinton (kanan) berkampanye bersama Wapres Joe Biden di Scranton, Pennsylvania hari Senin (15/8).

Dalam kampanye bersama Hillary Clinton hari Senin (15/8), Wapres AS Joe Biden mempertanyakan temperamen, kecerdasan, serta kualifikasi Donald Trump untuk jabatan Presiden Amerika.

Donald Trump Senin (15/8) menyerukan “pengecekan ekstrim”, termasuk screening ideologi, guna memastikan hanya orang-orang yang menerima nilai-nilai AS dan menghormati rakyat AS bisa berimigrasi ke Amerika.

Kandidat presiden partai Republik menguraikan kebijakan imigrasi dan luar negerinya pada Senin dihadapan masa yang yang mendukung dirinya di Youngstown, Ohio.

“Untuk memberlakukan prosedur-prosedur baru ini, kita perlu untuk sementara menghentikan imigrasi dari beberapa kawasan paling berbahaya, serta tidak menentu dan terus berubah-ubah di dunia yang memiliki catatan mengekspor terorisme,” ujar Trump.

Trump lagi-lagi menyerang Presiden Barak Obama dan mantan menlu Hillary Clinton, katanya mereka menunjukkan pertimbangan yang buruk di Irak, Suriah, dan Libya, tetapi kali ini dia menahan diri dan tidak menyebut presiden sebagai “pendiri ISIS.”

Sementara itu, Hillary Clinton dan wapres Joe Biden berkampanye di Scranton, Pennsylvania, tempat kelahiran Wapres AS, Joe Biden dan juga ayah Hillary.

Joe Biden mempertanyakan temperamen, kecerdasan, serta kualifikasi Donald Trump untuk jabatan presiden.

“Coba tengok … gagasan-gagasan Trump tidak sekedar salah besar, tapi juga sangat berbahaya dan tidak mencerminkan nilai-nilai Amerika. Gagasan-gagasannya menunjukkan ketidak pedulian dengan konstitusi Amerika. Gagasannya merupakan sebuah resep yang bisa menjerumuskan kita ke dalam perangkap teroris dan propaganda mereka,” kata Biden.

Kampanye Trump dihadapkan pada sebuah kontroversi lain Senin, ketika New York Times melaporkan bahwa penyelidik anti korupsi di Ukraina sedang menyelidiki apakah direktur kampanye Trump, Paul Manafort, memperoleh pembayaran ilegal bernilai jutaan dolar dari partai pro-Rusia dari mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich.

Paul Manafort adalah konsultan Yanukovych sebelum dia digulingkan dan melarikan diri pada 2014 dalam sebuah pembrontakan yang populer. Times melaporkan nama Manafort muncul dalam sebuah daftar tulisan tangan dan terlihat bahwa uang tunai senilai $ 12,7 juta diperuntukkan dirinya.

Badan anti-korupsi Ukraina sedang menyelidiki apakah pembayaran itu berasal dari aset pemerintah Ukraina yang dicuri oleh Yanukovich.

Tetapi sejauh ini tidak ada bukti bahwa Manafort menerima uang itu dan Manafort menyebut tuduhan itu sebagai “tidak berdasar, tolol, dan tidak masuk akal.” [jm]

XS
SM
MD
LG