Tautan-tautan Akses

Biaya Produksi yang Tinggi Bisa Sebabkan Pengusaha Tinggalkan Tiongkok

  • Heda Bayron

Para pekerja sedang bekerja di komplek Foxconn di Shenzhen, Tiongkok Selatan.

Para pekerja sedang bekerja di komplek Foxconn di Shenzhen, Tiongkok Selatan.

Selama puluhan tahun, pabrik-pabrik di Tiongkok telah membanjiri dunia dengan barang-barang murah mulai dari celana jeans hingga komputer. Tetapi harga barang ekspor diperkirakan naik karena pabrik-pabrik di Tiongkok menghadapi kenaikan upah, bahan mentah yang lebih mahal dan mata uang yang menguat.

Dalam kunjungan baru-baru ini ke Beijing, Presiden Brazil Dilma Rousseff mengatakan perusahaan Foxcom Internasional, perusahaan yang menghasilkan produk terkenal Iphone dari Apple, berencana membelanjakan 12 juta dolar untuk membangun pabrik di negaranya.

Selama beberapa waktu, Foxconn telah melebarkan sayap dari Tiongkok Selatan, pindah ke utara ke propinsi Hebei untuk memangkas biaya. Perusahaan itu, yang mempekerjakan ratusan ribu orang di Tiongkok, mengalami kerugian di tahun 2010 karena biaya produksi yang tinggi.

Perusahaan-perusahaan semakin banyak yang pindah dari pusat manufaktur di delta Pearl River karena keuntungan menurun.

Stanley Lau adalah direktur Perusahaan Manufaktur Renley Watch. Dia juga mengepalai Dewan Delta Pearl River dari Federasi Industri Hongkong.“Upah naik. Upah minimum naik dari sekitar 20 persen pada tahun 2010. Dan tahun ini upah naik lagi sekitar 20%. Ketika anda melihat ke negara mana saja, saya pikir anda tidak bisa menemukan tempat lain dimana kenaikan upah seperti ini terjadi,” ujar Lau.

Lagi pula, katanya, harga bahan mentah seperti kapas, plastik dan komponen elektronik meningkat. Walaupun mata uang Tiongkok telah naik terhadap dollar yang bisa menyeimbangkan harga bahan mentah impor, namun pemilik pabrik mengatakan bahkan bahan lokal pun semakin mahal. Tingkat inflasi Tiongkok mencapai 5,4 persen pada Maret, yang paling tinggi dalam kurun waktu tiga tahun.

Pada saat yang sama, apresiasi Yuan yang menurut Amerika dan negara Barat lainnya penting untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan Tiongkok, membuat produksi negara itu lebih mahal di luar negeri.

Li dan Fung, perusahaan di Hongkong yang menyuplai barang ke perusahaan eceran Wal-mart dan perusahaan eceran lainnya mengatakan harga barang ekspor Tiongkok akan naik 15 persen tahun ini. Para pemimpin perusahaan bulan lalu telah mengingatkan bahwa barang produksi Tiongkok memasuki sebuah era baru dengan meningkatnya harga.

Tantangan yang dihadapi eksportir Tiongkok ini bukanlah hal baru. Peningkatan terjadi selama dua tahun terakhir.

Salah satu pemecahan dilemma ini adalah pemindahan sarana produksi ke luar negeri. Lau dari Federasi Industri mengatakan akan sangat mudah bagi pabrik tekstil untuk memindahkan pabriknya ke negara seperti Vietnam dan Indonesia karena infrastrukturnya sudah tersedia disana.

Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa secara jelas menyatakan niatnya untuk memberlakukan batasan harga bagi barang-barang yang dijual di dalam negeri dan di luar negeri. Pemerintah berusaha keras mengurangi inflasi untuk menjamin harga makanan dan perumahan tidak naik sehingga memicu kerusuhan. Dan Tiongkok membiarkan perdagangan yuan secara lebih bebas secara bertahap karena khawatir kenaikan tajam dari nilai tukar akan berakibat mahalnya harga barang ekspor; sehingga memaksa pabrik-pabrik ditutup dan lapangan pekerjaan hilang.

XS
SM
MD
LG