Tautan-tautan Akses

Berkunjung ke Pameran Seni Mahasiswa Institut Kesenian Maryland

  • Julie Taboh

Beberapa lukisan karya mahasiswa Andrew Tanner dipamerkan di Institut Kesenian Maryland (MICA) di Baltimore, Maryland (foto: J. Taboh/VOA).

Beberapa lukisan karya mahasiswa Andrew Tanner dipamerkan di Institut Kesenian Maryland (MICA) di Baltimore, Maryland (foto: J. Taboh/VOA).

Para mahasiswa institut kesenian Maryland sebelum diwisuda memamerkan proyek-proyek akhir mereka dalam pameran seni di kampus mereka.

Maryland Institute College of Art (MICA) baru-baru ini meluluskan lebih dari 400 seniman muda dengan gelar Bachelor of Fine Arts dalam 16 disiplin berbeda terkait seni. Sebelum lulus, para mahasiswa itu memamerkan proyek-proyek akhir mereka dalam pameran seni yang tersebar di seluruh kampus

Jessica Marx dan Alexz Giacobbe menuntaskan proyek yang sudah mereka garap selama berbulan-bulan. Mereka adalah mahasiswa pada institut seni rupa itu yang terletak di Baltimore, sekitar 45 menit naik mobil dari Washington, DC.

Marx, mahasiswi jurusan fotografi, membuat topi untuk karya fashion mereka, yang diberi merek Mama Said, sedangkan Giacobbe, jurusan tekstil, membuat pakaian. Kedua seniman itu menggunakan pola jahitan dari tahun 1940-an dan 50-an untuk membuat pakaian.

Giacobbe mengatakan karyanya terinspirasi oleh sisa-sisa kain yang diberikan kepadanya oleh buyutnya.

"Saya ingin mencari cara untuk bisa mempertahankan dan memanfaatkan potongan-potongan kecil sisa kain ini, yang baginya benar-benar tidak berarti apa-apa, tapi entah mengapa, sangat berarti bagi saya," paparnya.

Baju-baju hasil rancangan dua mahasiswa Institut Kesenian Maryland, Jessica Marx dan Alexz Giacobbe (foto: J. Taboh/VOA)

Baju-baju hasil rancangan dua mahasiswa Institut Kesenian Maryland, Jessica Marx dan Alexz Giacobbe (foto: J. Taboh/VOA)

Giacobbe memindai kain perca itu ke data dalam komputer kemudian memperbesarnya sebelum mencetaknya.

Bagi kedua seniman itu, proyek tersebut adalah cara menghubungkan diri dengan masa lalu.

"Kami menyadari, jika tidak mengenangnya sekarang ini, siapa nanti yang akan mewariskan berbagi kenangan ini?" ujarnya lagi.

Marx juga menggunakan kain dari masa kecilnya untuk topi yang ia masukkan ke dalam pameran foto. Ia menuturkan,
"Saya membuat dua topi dari satu kain. Satu topi untuk menghormati ibu saya dan ditempatkan di atas sebuah penyangga, dan satu topi lagi untuk menghormati ayah saya, yang ditutupi kain selubung."

MICA adalah salah satu sekolah seni tertua di Amerika dan menawarkan 16 jurusan untuk tingkat sarjana.

Setiap tahun, siswa yang akan lulus memamerkan proyek akhir mereka dalam pameran seni yang menyebar ke lorong-lorong kampus dan kelas-kelas.

Raj Bunnag mengambil jurusan seni grafis. Proyeknya, disebut "Cranky," menampilkan adegan rumit yang diukir ke dalam linoleum, serta mengungkapkan cita-cita dan mimpi-mimpi buruknya.

Matthew Smith mengambil jurusan animasi. "Pada dasarnya seluruh animasi itu tesis saya. Ini adalah animasi 2-D yang ditarik tangan tentang Albert Einstein dan gaya tarik buminya. Saya melakukan cara kuno untuk animasi pada kertas yang ditarik tangan. Pada dasarnya dengan pameran ini, saya hanya ingin membongkar animasi dan benar-benar membiarkan pengunjung pameran melihat upaya di balik itu," paparnya.

Butuh waktu 10 bulan untuk membuat film animasi lima menit itu.

Empat ratus lulusan yang dianugerahi gelar pada hari pelantikan sarjana merupakan paling mengesankan dari karir pendidikan mereka.

Marx mengungkapkan, "Saya merasa luar biasa. Saya merasa lega. Saya merasa bersyukur. Sulit dipercaya. Ini bagai mimpi. Jalan yang kami tempuh memang panjang, tetapi jalan itu luar biasa dan saya benar-benar senang sudah melaluinya dan siap untuk merayakan keberhasilan ini."

Banyak mahasiswa lulusan intitut seni itu merasa sangat percaya diri menghadapi jalan serta tantangan yang membentang di depan mereka, bahkan dalam situasi ekonomi sulit, karena mereka berbekal pengalaman dari MICA.
XS
SM
MD
LG